Sabtu, 28 Agustus 2010

Dunia Mimpi Di Kerinci

Ada dua pengalaman tak terlupakan saat mengunjungi Gunung kerinci di Jambi, yaitu mendaki Danau Gunung Tujuh dan menelusuri Air Pendung. Dua perjalanan itu mengantar saya memasuki alam surealis yg menghanyutkan.
Danau Gunung Tujuh berdada diatas ketiggian 1.950 meter di atas permukaan laut (dpl), tercatat sebagai danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara. Berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), danau itu dicapai dengan mendaki dari post resort Gunung Tujuh, desa pesisir bukit, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci. Pos itu sendiri berjarak sekitar 50-an kilometer dari sungai penuh, pusat kota di Kabupaten Kerinci.
Saya dan beberapa kawan mulai mendaki dari Pos Gunung Tujuh sekitar pukul 10.00 WIB awal Mei lalu, dgn ditemani Giyono (37), pengawas hutan dari TNKS. Hingga satu sampai dua kilometer awal, jalan masih landai. Hutan di kiri kanan jalan banyak dirambah menjadi kebun liar.
Makin ke atas, perjalanan makin sulit. Apalagi, kami memang memilih jalur menanjak yg lebih dekat ke danau., dgn kemiringan yg mencapai 50 sampai dgn 70 derajat. Jalan setapak tanah liat itu juga licin. Kami mesti menyelipkan kaki dicelah-celah akar pohon sambil berpegangan pada batang-batang melintang. Tak lama, nafas langsung ngos-ngosan dan lutut pegal. Kamipun kerap berhenti utk beristirahat.

Meski lelah, kami menikmati segala hal yg ada di hutan alami itu. Pohon-pohon besar dan tinggi-sekitar 20-an meter- berdiri gagah. Giyono menyebutkan jenis-jenis pohon itu, seperti, pauh, medang, delam, atau embun. Ada juga bermacam anggrek dgn bunga yg aneh.
Suasana bertambah syahdu ketika terdengar berbagai kicauan burung. Ada burung punai, enggang, karau, abang pipit, murai batu, atau jalak. Kadang, burung itu berkelebat di depan mata. Sesekali terdengar gemericik sungai yg yg mengalir di bawah.

Danau
Setelah tiga jam perjalanan, sekitar pukul 13.00, akhirnya kami tiba di danau Gunung Tujuh. Hati serasa melelh saat disuguhi pemandangan menggoda. Perjuangan mendaki tadi langsung seperti terbayar sudah.
Sebuah danau, seluas sekitar 4,5 km x 3 km, terhampar di tengah apitan tujuh puncak gunung. Air danau itu begitu bening. Bebatuan dan akar kayu di dasar danau seperti dalam kaca akuarium. Lalu angin berembus, udarapun segar.
Dari pucuk-pucuk gunung itu muncul kabut bak gumpalan kapas putih, yg kemudian perlahan turun dan mendarat di atas permukaan danau. Danau itu seperti menyatukan dunia bawah dan dunia atas. Sungguh lanscap itu mirip lukisan surealis yg menyeruak dari alam mimpi.
Lalu mimpi itu dipecah oleh sesosok kecil nelayan yg berperahu sampan. Dengan dayung, dia melaju pelan dari tengah danau ke tepian. Sabran (32), begitu namanya, menghampiri kami seraya menyodorkan ikan kecil-kecil yg kering kegosongan. “Ini ikan perih, asli dari danau. Sudah diasapi, jadi siap dimakan,” katanya.Kami membeli sedikit ikan itu. Sambil duduk di atas batu-batu besar, kami menyantapnya bersama nasi atau roti perbekalan. Sementara mulut kami mengunyah ikan yg gurih renyah, mata kami melahap kemolekan alam itu. ”Danau ini masih asri. Mungkin karena akses ke sini sulit, jadi hanya para pecinta alam yg mau bersusah payah berkunjung,” kata Giyono.
Sayang, kenikmatan itu berangsur surut. Saat hari semakin sore, gerimis mulai menitis. Gunung-gunung dan danau itu tersamar oleh mendung. Kami memutuskan pulang.


Pendung

Esok harinya, kami secara tak sengaja mengunjungi Air Terjun Pendung di desa Semurup, Kecamatan Air Hangat, Kerinci. Lokasinya berada di sebelah kiri jalan raya di pertengahan antara Kota Sungai Penuh ke kebun teh di Kayu Aro. Ini termasuk obyek yg belum populer sehingga jarang dirambah wisatawan.

Untuk menuju ke air terjun itu, pengunjung harus menyusuri kebun, hutan, dan menyeberangi sejumlah sungai. Beruntung, kami diantar rombongan beberapa siswa yg tengah berlibur. Di antara lintasan sungai-sungai, kami menelusuri jalan setapak tanah liat yg berlumpur, menyelinap di balik pepohonan, atau menyibak rerimbunan semak belukar. Kadang, kami harus melepas sendal atau sepatu agar agar lebih mudah berjalan.

Jalur ini masih sulit dilalui karena hanya sesekali digunakan. ”Pengunjungnya orang-orang di sekitar sini saja,” kata Ziki (13) salah satu anak pengantar kami.

Sekitar satu jam perjalanan, pada ujung sungai Pendung, kami dikejutkan oleh pemandangan tak terduga. Sebuah ngarai atau lereng menjulang tinggi di atas sungai. Dari atas ngarai, muncul air bertumpahan dalam butiran besar dan kecil.

Air terjun itu diapit dinding batu yg berlekak-lekuk dan dipenuhi lumut, semak, atau suplir. Secercah sinar matahari dari atas ngarai itu menerobos masuk ke dalam jurang hingga menembus air sungai yg bening. Paduan antara ngarai, air terjun, sungai, dan terobosan sinar matahari tadi menciptakan suasana dramatis.

Tiba-tiba turun hujan. ”Kalau hujan begini, kita harus cepat kembali, karena sungai bisa tiba-tiba pasang,” kata Refo (12), salah satu rombongan anak. Kamipun terpaksa bergerak pulang.

Kawasan Kerinci, yg berada di perbatasan antara Jambi dan Sumatera Barat, memang menawarkan banyak pesona alam. Danau Gunung Tujuh dan Air Terjun Pendung termasuk yg menanamkan kesan mendalam. Meski sudah kembali ke Jakarta, pengalaman mengunjungi dua tempat itu kami simpan sebagai mimpi indah yg enggan kami lepaskan.[-O-]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar