Rabu, 01 September 2010

Turunkan Emisi Karbon di Rumah

Destia Mariana (26) tidak pernah menyangka kalau kamar dan rumahnya juga penghasil polusi gas rumah kaca yg memicu pemanasan global dan perubahan iklim. Itu baru diketahuinya setelah ia secara sukarela membeberkan aktifitas kesehariannya kpd Klinik Diet karbon yg digelar dalam Clinic Help-Climate Justice for Earth di Taman Suropati, Minggu (25/4).
Ia menyimak dan menjawab dan menjawab pertanyaan Musfarayani, staf iESR, yg mengisikan data aktivitas keseharian Dest!a dalam kalkulator Jejak karbon. "Berapa watt lampu terbesar d! rumah anda?" tanya Musfarayan!. Dest!a tertegun, meng!ngat-!ngat. "kalau tdk salah 20 watt. Ada tujuh lampu d! rumah. Menyala sek!tar 16 jam per har!," Dest!a menjawab dgn ragu.
Mustafarayan! memasukan data !tu ke dalam kalkulator Jejak karbon, perant! lunak d! komputernya. Perant1 lunak 1tulah yg mengh1tung jejak karbon, al1as jumlah em1s1 gas rumah kaca yg d1produks1 suatu organ1sas1, produk atau 1nd1v1du.
Dest1a menuturkan, telev1s1nya menyala tujuh jam sehar1, sementara komputer menyala sek1tar t1ga h1ngga empat jam per har1. Peranak nas1 berpenghangat d1 rumahnya menyala 24 jam sehar1, sementara k1pas ang1n menyala satu jam per har1.
Set1ap har1 Dest1a memaka1 sek1tar delapan lembar kertas 70 gram utk mencatat ataupun mencetak sejumlah dokumen pr1bad1nya. Untungnya, 1a memaka1 ulang kertas yg sudah terpaka1 d1 salah satu s1s1nya, seh1ngga jejak karbon pemaka1an kertas 1tu berkurang.
Dest1a jarang membel1 a1r meneral dalam kemasan karena 1a rela repot membawa tempat m1num send1r1. 1a juga pengguna angkutan massal, set1ap har1 1a menumpang angkutan kereta ap1 utk perg1 dar1 rumahnya d1 Bekas1 menuju kantornya d1 Harmon1.
Apakah anda selalu menghab1skan makanan d1 p1r1ng anda? Mustafarayan1 bertanya lag1. Dest1a mengangguk mantap.
Namun, ada suara d1 belakangnya, "Waduh yg 1tu gue kena, tuh. Gue tdk pernah b1sa menghab1skan makanan d1 p1r1ng gue," keluh Non1k Yul1ant1 (25) yg sedar1 tad1 menonton pengh1tungan jejak karbon Dest1a. Mustafarayan1 tersenyum. "Meny1sakan seperempat p1r1ng makanan 1tu sama dgn menghas1lkan em1s1 3 gram setara CO2, jad1 hab1skan makanan d1 p1r1ng anda.
Mustafarayani memasukkan semua data aktivitas Destia dalam piranti lunak Kalkulator Jejak karbon, "Gaya hidup anda menghasilkan emisi karbon 16.928, 56 gram setara Karbon dioksida (CO2)," kata Mustafayani memberitahu Destia.
Destia tercengang. "Saya sudah sering mendengar pemakaian kendaraan pribadi itu menimbulkan emisi gas ruang kaca. Saya agak terkejut juga ketika menyadari, ternyata aktivitas saya dirumah juga menghasilkan emisi gas rumah kaca.," kata Destia seusai mengikuti penghitungan jejak karbonnya.
Mustafarayani menenangkannya. "Tenang, kami bukan meminta anda menghentikan aktivitas sehari-hari itu. Kami hanya ingin memberitahu, agar anda bisa merencanakan sendiri pengurangan emisi gas rumah kaca dari aktivitas anda," ujarnya.

Membangkitkan Kesadaran
Mustafarayani tdk sedang menghakimi orang yg dgn sukarela mau menghitung jejak karbon mereka. Mustafa dan IERS hanya ingin membangkitkan kesadaran bahwa setiap orang adalah poluter emisi karbon. Setiap orang dalam hidupnya menghasilkan emisi yg membuat selimut rumah kaca bumi kian tebal.
"Itu berarti setiap orang juga bisa berbuat utk mengurangi emisi karbon di bumi ini. Tidak ada patokan apakah seseorang dgn emisi karbon 20.000 gram setara CO2 misalnya, akan digolongkan sbg poluter yg parah karena berapa jejak karbon seseorang bergantung pd gaya hidup masing-masing. Yang penting, apa rencana orang itu utk mengurangi emisi karbonnya,"kata Mustafa.
Kalau anda membiarkan lampu 10 watt tetap padam, anda mengurangi emisi karbon sebanyak 0,51 gram setara CO2. Dari pada mengendarai sepeda motor, berjalan kaki utk berbelanja di warung berjarak 500 meter dari rumah lebih menghemat 14,8 gram setara CO2.
Mengurangi pemakaian satu lembar kertas 70 gram saja bisa 226,8 gram setara CO2. ikuti langkah Destia yg memilih membawa botol minuman sendiri ketimbang membeli air minum dalam kemasan karena pembuatan setiap botol air mineral menghasilkan emisi karbon 841,5 gram setara CO2.
Lalu, berapa emisi karbon yg anda hasilkan dalam keseharian anda? Mudah saja, buka situs http://www.iesr-indonesia.org. lalu klik ikon "Kalkulator Jejak karbon" di bagian kanan halaman situs itu. Hitunglah sendiri berapa jejak karbon dalam kehidupan sehari-hari, dan rencanakan pengurangan emisi karbon anda hari ini juga.
"Kalau kita mau memerhatikan, pengurangan emisi karbon di rumah kita sebenarnya adalah penghematan yg nantinya akan mengurangi biaya rutin bulanan kita. Tetapi, lebih dari pada hitungan ekonomi, ternyata berhemat juga mengurangi beban pencemaran bumi atas emisi karbon," kata Mustafarayani.[-O-]

Senin, 30 Agustus 2010

Menanti Matahari Terbit Selepas Sahur

Dianugrahi pantai yg indah, masyarakat Bengkulu memiliki cara yg mengasyikkan utk mengisi waktu selepas sahur atau menunggu waktu berbuka puasa. Apalagi kalau bukan menanti matahari terbit dan tenggelam. Pantai panjang serta pantai Tapak Padri menjadi salah satu tempat yg umumnya disasar selepas sahur sambil menunggu matahri terbit. Berbagi cerita atau sekedar duduk menikmati hembusan angin pantai sudah barang tentu menjadi hal yg mengasyikkan. Demikian pula menjelang berbuka puasa, tubuh yg letih setelah seharian menahan lapar dan dahaga tentu akan terobati ketika lamat-lamat mentari tenggelam di ufuk barat.
Pantai Padri malah memiliki daya tarik tersendiri. Pasalnya, di tempat ini pula berdiri Benteng Marlborough, salah satu benteng yg pernah dibangun inggris. Sebagai informasi, benteng tersebut dibangun dalam dua tahap yaitu pd tahun 1713-1719, dan kemudian dilanjutkan pembangunannya oleh Gubernur Jenderal Thomas Raffles dari tahun 1818-1824. Dengan bibir pantai yg panjang, pasir yg lembut, serta nilai histori yg tak ternilai, wajar jika tempat tersebut hingga kini tetap menarik utk dikunjungi.[-O-]

Minggu, 29 Agustus 2010

Ratusan Keluarga Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran

Ratusan keluarga di pemukiman padat di RT 10 RW Kapuk Muara, Penjaringan, Jakut, Selasa (20/4), sekitar pukul 09.15, terbakar. Belum ada angka pasti dari jumlah rumah semipermanen yg terbakar.Namun, Komandan Pemadam Kebakaran Penjaringan Budi Suharto mengatakan, kawasan yg terbakar seluas 6.000 meter persegi dan jumlah rumah yg terbakar mencapai 400 rumah.

Banyaknya jumlah rumah yg terbakar disebabkan saat kejadian angina berembus kencang. Rumah-rumah yg terbakar juga juga terbuat dari kayu dan tripleks. Letak rumah juga berhimpitan sehingga api dgn mudah menjalar ke sana kemari. Selain itu, petugas pemadam kebakaran sulit mendapatkan sumber air di daerah tsb.

Tdk ada korban jiwa dalam musibah itu. Namun, empat orang terluka saat membantu memadamkan api. Selain itu, ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal. Mereka lalu mengungsi di tanah lapang yg letaknya tdk jauh dari lokasi kebakaran.

Budi mengatakan, pihaknya belum mengetahui penyebab kebakaran. Namun, dikalangan warga terjadi kesimpang-siuran informasi. Beberapa warga mengatakan api disebabkan oleh ledakan tabung gas 3 kg, sedangkan warga lain mengatakan api berasal dari hubungan pendek arus listrik dari sebuah warung.

Besarnya kebakaran itu membuat Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta mengirim 25 unit mobil pemadam kebakaran. Sebanyak 11 unit mobil pemadam didatangi dari suku dinas Kebakaran Jakbar dan dari Jakut dikirim 14 unit mobil pemadam. Dengan banyaknya mobil pemadam kebakaran, api berhasil dikuasai sekitar dua jam kemudian. Namun, api menghanguskan 80 persen dari lokasi pemukiman itu.

Dalam kesibukan warga menyelamati barang-barang miliknya, seorang laki-laki digebuki masa karena diduga akan mengambil barang berharga milik warga. Namun, keributan tsb berhasil dilerai polisi dan laki-laki itu dibawa ke pos Polisi Kapuk Muara. "Dia mencoba mengambil handphone," kata Dedeh (30), salah seorang warga.

Utk sementara warga ditampung di dua tenda besar milik PMI dan enam tenda kecil yg didirikan di tanah lapang itu. Enam tenda kecil itu milik dinas sosial dan kelurahan. "Saya belum tahu setelah ini bagaimana. Malam ini terpaksa tinggal di tenda dulu," kata Mia yg masih menangis.

Saat kejadian, sebagian warga yg berada di lokasi adalah perempuan dan anak-anak. Sementara kaum laki-laki sdh berangkat bekerja. "Suami saya sdh berangkat pagi-pagi. Makanya barang saya banyak yg terbakar karena saya tdk kuat membawa keluar. Kaki juga terasa lemas," kata Mia.

Ketua PMI Jakut Sabri Saiman mengatakan, PMI mendirikan dapur umum dan mengalokasikan sejumlah logistik bahan makanan utk para korban.[-O-]

Target Notebook Toshiba 24 ribu

Toshiba mematok target penjualan notebook di Indonesia tahun ini 24 ribu Unit, atau naik 10 persen dibanding tahun lalu. "Untuk mendukung itu, kami merilis lima model baru, antara lain produk Cosmio," ujar General Manager of Toshiba Singapura Computer System Division Junichi Ishikawa kemarin.
Disebutkan, market share notebook Toshiba pd 2004 di Indonesia sebesar 27,8 persen. Pertumbuhan pengguna notebook akan naik menjadi 20 persen. Jumlah tsb akan terus bertambah ke depannya.
Menurutnya, Toshiba tetap lebih banyak membidik konsumer yaitu sebesar 80 persen, sedangkan 20 persennya target market ke korporet antara lain perbankan dan dunia pendidikan. "Toshiba masih membidik kalangan high end utk produk notebook dgn harga sekitar Rp 20 juta lebih," ujarnya. Dengan total pasar notebook di Indonesia tahun ini sekitar 84 ribu unit., kompetitor Toshiba antara lain Hewlett Packard, IBM dan Acer.[-O-]

Sabtu, 28 Agustus 2010

Dunia Mimpi Di Kerinci

Ada dua pengalaman tak terlupakan saat mengunjungi Gunung kerinci di Jambi, yaitu mendaki Danau Gunung Tujuh dan menelusuri Air Pendung. Dua perjalanan itu mengantar saya memasuki alam surealis yg menghanyutkan.
Danau Gunung Tujuh berdada diatas ketiggian 1.950 meter di atas permukaan laut (dpl), tercatat sebagai danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara. Berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), danau itu dicapai dengan mendaki dari post resort Gunung Tujuh, desa pesisir bukit, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci. Pos itu sendiri berjarak sekitar 50-an kilometer dari sungai penuh, pusat kota di Kabupaten Kerinci.
Saya dan beberapa kawan mulai mendaki dari Pos Gunung Tujuh sekitar pukul 10.00 WIB awal Mei lalu, dgn ditemani Giyono (37), pengawas hutan dari TNKS. Hingga satu sampai dua kilometer awal, jalan masih landai. Hutan di kiri kanan jalan banyak dirambah menjadi kebun liar.
Makin ke atas, perjalanan makin sulit. Apalagi, kami memang memilih jalur menanjak yg lebih dekat ke danau., dgn kemiringan yg mencapai 50 sampai dgn 70 derajat. Jalan setapak tanah liat itu juga licin. Kami mesti menyelipkan kaki dicelah-celah akar pohon sambil berpegangan pada batang-batang melintang. Tak lama, nafas langsung ngos-ngosan dan lutut pegal. Kamipun kerap berhenti utk beristirahat.

Meski lelah, kami menikmati segala hal yg ada di hutan alami itu. Pohon-pohon besar dan tinggi-sekitar 20-an meter- berdiri gagah. Giyono menyebutkan jenis-jenis pohon itu, seperti, pauh, medang, delam, atau embun. Ada juga bermacam anggrek dgn bunga yg aneh.
Suasana bertambah syahdu ketika terdengar berbagai kicauan burung. Ada burung punai, enggang, karau, abang pipit, murai batu, atau jalak. Kadang, burung itu berkelebat di depan mata. Sesekali terdengar gemericik sungai yg yg mengalir di bawah.

Danau
Setelah tiga jam perjalanan, sekitar pukul 13.00, akhirnya kami tiba di danau Gunung Tujuh. Hati serasa melelh saat disuguhi pemandangan menggoda. Perjuangan mendaki tadi langsung seperti terbayar sudah.
Sebuah danau, seluas sekitar 4,5 km x 3 km, terhampar di tengah apitan tujuh puncak gunung. Air danau itu begitu bening. Bebatuan dan akar kayu di dasar danau seperti dalam kaca akuarium. Lalu angin berembus, udarapun segar.
Dari pucuk-pucuk gunung itu muncul kabut bak gumpalan kapas putih, yg kemudian perlahan turun dan mendarat di atas permukaan danau. Danau itu seperti menyatukan dunia bawah dan dunia atas. Sungguh lanscap itu mirip lukisan surealis yg menyeruak dari alam mimpi.
Lalu mimpi itu dipecah oleh sesosok kecil nelayan yg berperahu sampan. Dengan dayung, dia melaju pelan dari tengah danau ke tepian. Sabran (32), begitu namanya, menghampiri kami seraya menyodorkan ikan kecil-kecil yg kering kegosongan. “Ini ikan perih, asli dari danau. Sudah diasapi, jadi siap dimakan,” katanya.Kami membeli sedikit ikan itu. Sambil duduk di atas batu-batu besar, kami menyantapnya bersama nasi atau roti perbekalan. Sementara mulut kami mengunyah ikan yg gurih renyah, mata kami melahap kemolekan alam itu. ”Danau ini masih asri. Mungkin karena akses ke sini sulit, jadi hanya para pecinta alam yg mau bersusah payah berkunjung,” kata Giyono.
Sayang, kenikmatan itu berangsur surut. Saat hari semakin sore, gerimis mulai menitis. Gunung-gunung dan danau itu tersamar oleh mendung. Kami memutuskan pulang.


Pendung

Esok harinya, kami secara tak sengaja mengunjungi Air Terjun Pendung di desa Semurup, Kecamatan Air Hangat, Kerinci. Lokasinya berada di sebelah kiri jalan raya di pertengahan antara Kota Sungai Penuh ke kebun teh di Kayu Aro. Ini termasuk obyek yg belum populer sehingga jarang dirambah wisatawan.

Untuk menuju ke air terjun itu, pengunjung harus menyusuri kebun, hutan, dan menyeberangi sejumlah sungai. Beruntung, kami diantar rombongan beberapa siswa yg tengah berlibur. Di antara lintasan sungai-sungai, kami menelusuri jalan setapak tanah liat yg berlumpur, menyelinap di balik pepohonan, atau menyibak rerimbunan semak belukar. Kadang, kami harus melepas sendal atau sepatu agar agar lebih mudah berjalan.

Jalur ini masih sulit dilalui karena hanya sesekali digunakan. ”Pengunjungnya orang-orang di sekitar sini saja,” kata Ziki (13) salah satu anak pengantar kami.

Sekitar satu jam perjalanan, pada ujung sungai Pendung, kami dikejutkan oleh pemandangan tak terduga. Sebuah ngarai atau lereng menjulang tinggi di atas sungai. Dari atas ngarai, muncul air bertumpahan dalam butiran besar dan kecil.

Air terjun itu diapit dinding batu yg berlekak-lekuk dan dipenuhi lumut, semak, atau suplir. Secercah sinar matahari dari atas ngarai itu menerobos masuk ke dalam jurang hingga menembus air sungai yg bening. Paduan antara ngarai, air terjun, sungai, dan terobosan sinar matahari tadi menciptakan suasana dramatis.

Tiba-tiba turun hujan. ”Kalau hujan begini, kita harus cepat kembali, karena sungai bisa tiba-tiba pasang,” kata Refo (12), salah satu rombongan anak. Kamipun terpaksa bergerak pulang.

Kawasan Kerinci, yg berada di perbatasan antara Jambi dan Sumatera Barat, memang menawarkan banyak pesona alam. Danau Gunung Tujuh dan Air Terjun Pendung termasuk yg menanamkan kesan mendalam. Meski sudah kembali ke Jakarta, pengalaman mengunjungi dua tempat itu kami simpan sebagai mimpi indah yg enggan kami lepaskan.[-O-]

Jumat, 27 Agustus 2010

Ibu Bunuh Anak Kandungnya

Daniel Marudut Hutapea, bayi berumur lima bulan, meninggal di tangan ibunya, VS alias Erika. Menurut pengakuan Erika ke Polisi penyidik, dia menyilet tangan Daniel lalu membekap mulutnya karena si bayi rewel. Erika kini menghadapi ancaman penjara hingga 15 tahun karena perbuatannya.
"Setelah mengetahui anaknya meninggal, tersangka panik dan mencoba bunuh diri. Dia menusuk perutnya dgn pisau kemudian meminum bensin," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Komisaris Ade Syam Indradi di Kepolisian Medan Satria, kota Bekasi, Selasa (20/4).
Erika diperiksa polisi di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi sejak Sabtu lalu, atau dua hari setelah peristiwa percobaan bunuh dirinya dan pembunuhan Daniel terjadi. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Erika ditahan di Polsek Medan Satria mulai Senin.
Selasa, polisi dan tim dokter Polres Metro Bekasi memeriksa kondisi kesehatan Erika di ruang tahanan Polsek Medan Satria. Menurut petugas pemeriksa, Erika sehat dan lukanya membaik. Erika berada dalam satu sel bersama 10 tahanan lainnya di sel khusus tahanan perempuan milik Polsek Medan Satria.
Ade menambahkan, pemeriksaan Erika masih berlanjut. Polisi mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi lain, termasuk dari Malanton Hutapea alias Anton, suami Erika.
Atas perbuatan menganiaya anak sendiri sampai meninggal, Erika diancam pidana penjara 10 tahun, ditambah sepertiganya, seperti yg diatur dlm UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak. Erika juga diancam pidana penjara selama-lamanya 15 tahun karena membunuh.
Peristiwa yg menyeret Erika dan menghadapi ancaman penjara sampai belasan tahun terjadi pd Kamis (15/4) pagi. Ketika itu, sejumlahvwarga Perumahan Dukuh Zambrut Blok P18, Keluran Pedurenan, Mustikajaya, menemukan Anton panik dan menagis di rumahnya, Jalan Zamrud Utara Blok P18 Nomor 88.
Di kamar tidur keluarga, Anton menemukan Erika bersimbah darah dan anaknya, Daniel, meninggal dunia.
Daniel dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jaktim, Jumat. Saat keluarga Anton mengadakan kebaktian di rumah sebelum pemakaman, Erika, yg dirawat di RS Permata, Bekasi, datang dan menyatakan penyesalannya.
Berdasarkan hasil sementara otopsi di RS Pusat Polri, dr Soekamto, kramat Jati, Jaktim, Daniel meninggal karena tdk dpt bernafas. Daniel, dibekap mulut dan hidungnya sampai tewas. Terdapat luka sayatan di urat nadi tangan kiri bayi tsb, tetapi sayatan itu tidak sampai menyebabkan kematian karena urat nadinya tdk putus.
Terkait dgn peristiwa tsb, Polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain sebilah pisau dapur bergagang hitam, silet, botol bensin yg terisi setengah, seprai, dan dua lembar surat. Salah satu surat tsb berisi tulisan penyesalan dan permintaan maaf yg ditulis Erika, kamis.[-O-]

Kamis, 26 Agustus 2010

Aksi Mengubur Tubuh

Pemprov DKI Tetap Kosongkan Tanah di Cempaka Putih.

Pemerintah Prov DKI Jakarta tetap akan mengosongkan tanah aset Pemprov di kecamatan Cempaka Putih, yg selama ini masih dipakai warga utk tinggaal dan berusaha. Masyarakat ditawari uang pindah sebesar Rp. 40 juta. Namun, enam orang yg masih bertahan di lahan yg akan digusur itu, di Jakarta, Senin (2/8), melakukan aksi mengubur tubuhnya di dalam tanah sebagai protes atas penggusuran itu.
Camat cempaka Putih M Anwar mengatakan, tanah seluas 1.300 meter itu merupakan aset Pemprov DKI. Orang-orang yg menempati tanah itu pernah berjanji akan pindah jika disuruh pemerintah. ”Tanggal 15 Juni 2010 mereka berjanji akan mengosongkan tanah pada 15 Juli. Sampat tgl 15 Juli, tanah itu tdk dikosongkan juga. Akhirnya setelah rapat koordinasi, kami beri surat peringatan kpd mereka agar pindah,” kata Anwar.
Anwar juga mengatakan tdk ada surat-surat lain yg mendukung sah-nya penempatan lahan aset pemprov oleh warga itu. Selama ini, para penghuni juga belum pernah membayar pajak bumi dan bangunan utk tanah yg mereka gunakan.
Setelah enggan pindah, penghuni sempat mengajukan permintaan ganti rugi Rp. 1 Miliar, dan meningkat lagi jadi Rp 3,03 miliar. Anwar mengatakan, pemerintah tdk bisa begitu saja memberikan ganti rugi, terlebih jika ganti rugi utk tanah aset pemprov. Dia mengatakan, pemerintah sudah menyediakan Rp. 40 juta sebagai uang pindah bagi para penghuni di tanah itu.

Dapat Pengganti.
Kusein Sastro (78), salah satu penghuni tanah yg akan digusur, mengatakan, dirinya telah menghuni tempat itu sekitar 53 tahun. Semula, tanah itu merupakan kuburan. Setelah kuburan dipindahkan pada tahun 1980-an, menurut Kusein, tanah itu ditelantarkan. Tanah ini awalnya tidak bertuan. Saya tempati saja. Saya bikin rumah di sini. Sekarang ada 33 bangunan di sini,” kata Kusein yg juga mengaku tidak membayar sepeser pun utk tinggal di situ.
Dia mengakui pernah mengajukan ganti rugi senilai Rp 3,03 miliar utk 33 keluarga yg tinggal di situ, dan belum ada jawaban atas permintaan itu.
Enam orang yg menimbun diri ditanah juga tinggal di situ. Salmah M Saleh (52), salah seorang yg memendam diri, berharap pemerintah bisa menyediakan rumah pengganti rugi warga yg telah lama tinggal di lokasi itu. Selain Salmah, lima orang yg memendam diri dalam aksi kemarin adalah Dyatmo Suminto, Firzen Saleh, Suherman, dadang sukanta, dan Paidi.
Tanah yg dipersengketakan terletak antar Pasar rawasari dan Kantor BKKBN, dan berseberangan dgn Kantor Camat Cempaka Putih.[-O-]