Tampilkan postingan dengan label Konservasi Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konservasi Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Desember 2010

Bakau Untuk Menjaga Jakarta

Pemanasan Global, yg saat ini menjadi isu utama lingkungan, agaknya juga dipahami murid-murid sekolah dasar. Buktinya, ada 30 murid SD yg terlibat sangat antusias menanam bakau atau mangrove di kawasan pesisir Pantai Indah kapuk, Penjaringan, Jakut, pd Sabtu (24/4) pagi.
Tanpa segan-segan, para murid-murid yg datang dari berbagai sekolah di Jakarta itu turun ke dalam air berlumpur hitam. Mereka tdk hanya menanam satu pohon, tetapi beberapa pohon setiap orangnya.
Ya, mereka beberada di sana karena ingin menjadikan Jakarta lebih hijau. Dengan demikian, polusi yg ada bisa berkurang, dan Jakarta menjadi tempat yg nyaman utk hidup. Penanaman bakau itu sebenarnya dimotori oleh Taman Wisata Mekarsari yg menjadikan konservasi sebagai salah satu misinya. Bekerja sama dgn Kidzania, Artha Graha Peduli, dan beberapa pihak lainnya, mereka menggelar acara ini sebagai bagian dari rangkaian Festival Hutan yg akan berlangsung pd 13-16 Mei 2010.
Walau acara Festival Hutan masih satu bulan lagi, rangkaian kegiatan sdh kami lakukan sejak satu bulan sebelumnya," kata Hari tanjung,Dirut Taman Wisata Mekarsari. Rencananya mekarsari akan menanam 10.000 pohon bakau di wilayah utara Jakarta ini. nantinya, pohon-pohon bakau tsb akan menjadi hutan lindung shg tdk ada yg boleh menebang pohon mangrove.
Jika sdh menjadi hutan, tentu bisa menjadi habitat bagi satwa liar seperti burung, biawak, ular dan monyet. Rencana ini tentu saja disambut gembira oleh Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan sosial Kementrian Kehutanan Indriastuti yg juga hadir di acara itu.
"Penanaman bakau ini sejalan dgn komitmen Pemerintah Indonesia utk mengurangi emisi hingga 26 persen pd tahun 2020. bakau ataua mangrove ini termasuk tanaman yg menyerap karbon paling banyak," kata Indriastuti. Selain itu, keputusan Presiden SBY, yakni satu orang satu pohon pd tahun 2009, sdh tercapai. Namun, pd tahun 2010 ini target penanaman pohon ditingkatkan menjadi satu Miliar pohon.
"Pemerintah sangat serius utk mengurangi emisi. Oleh karena itu, sekarang pemerintah melakukan gerakan "One Billion Indonesia Tress to the World," kata Indriastuti. Keberadaan hutan mangrove di pantai Jakarta itu juga bisa melindungi akses menuju bandara. Beberapa kali jalan menuju bandara terkena limpasan gelombang laut shg mengganggu jadwal penerbangan.
Selain mencegah gelombang tinggi dan abrasi pantai, hutan mangrove juga bisa mencegah instrusi air laut masuk lebih jauh ke daratan kota Jakarta. Intrusi air laut ini membuat air tanah tdk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kota Jakarta. Menurut Indriastuti, keberadaan bakau juga bisa menambah penghasilan masyarakat. "Di tempat ini bisa dibudi dayakan kepiting. Buah mangrove juga bisa dimanfaatkan sebagai sirup, dodol, dan bahan sabun," tutur Indriastuti.

Lomba
Selain menanam mangrove, Taman Wisata Mekarsari juga mengunjungi 50 SD se-Jabodetabek utk menanam pohon buah dan tanaman keras di halaman sekolah mereka. "Kami juga sdh membuat hutan kecil di Mekarsari agar pengunjung bisa menikmati hutan di sana," kata Hari.
Bagi engunjung yg ingin belajar menanam, mereka bisa belajar secara gratis di Mekarsari setiap Sabtu dan Minggu mulai tgl 1 April sampai 11 Mei 2010. Beberapa lomba yg memakai tema konservasi juga diselenggarakan, seperti lomba gambar, mewarnai gambar, tari kreasi, karya tulis, dan juga fotografi. "Total hadiahnya mencapai Rp. 50 juta," kata Hari.[-O-]

Minggu, 21 November 2010

Warga Tangkuban Perahu Tidak Sabar

Warga kawasan Gunung Tangkuban Perahu, Jawa barat, tdk sabar dgn berlarut-larutnya kasus perizinan Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu yg dinilai tdk prosedural. Selasa (18/5), perwakilan warga mendatangi DPRD Jabar dan mendesak DPRD menggugat izin pengelolaan dari Kementrian Kehutanan kepada PT Graha Rani Putra Persada ke pengadilan tata usaha negara.
Acil Bimbo, budayawan dan tokoh masyarakat Sunda, mengatakan, persoalan Tangkuban Perahu seperti bom waktu jika pemerintah tdk tegas. "Masyarakat sdh lelah menahan sabar karena kasus ini sdh tiga tahun. Pemberian izin kepada PT Graha Rani Putra Persada (GRPP) menunjukkan pemerintah tdk ada tenggang rasa kpd warga," katanya.
Acil mengingatkan, pengembangan Tangkubanperahu oleh swasta tanpa melewati prosedur semestinya akan berdampak buruk secara sosial, ekologis, ekonomis, dan etnisitas. Terlebih, lanjut Acil, Tangkubanperahu adalah lambang kebanggaan Jabar. "Disana tersimpan, cerita, pantun, dan situs budaya serta alam yg tdk ternilai harganya," kata Acil.
Acil menagih janji pemerintah menghijaukan kawasan hutan dgn berbagai program, termasuk penanaman satu miliar pohon yg setahun lalu dicanangkan Presiden SBY. juru bicara masyarakat adat Tangkubanperahu, Dadang Hermawan, menyatakan, warga akan mengepung gedung sate, Bandung, utk menuntut Gubernur dan DPRD Jabar bersikap tegas. "Kami akan turun pd 30 Mei. Harga diri masyarakat Sunda dihinakan dgn berlarut-larutnya masalah ini. Kami menuntut pemerintah segera mencabut izin PTGRPP," katanya.
Ketua Komisi B DPRD Jabar, Hasan Zaenal berjanji akan mempertemukan semua pihak terkait dgn kasus Tangkubanperahu. Ia juga akan bertemu dgn Menhut Zulkifli Hasan."Kami akan mengupayakan mediasi dgn Menhut,"katanya. Secara kelembagaan, abidin sepakat dgn tuntutan warga Tangkubanperahu. DPRD Jabar juga menyayangkan pengelolaan Taman Wisata Alam Tangkubanperahu oleh PT GRPP yg tdk memberikan restribusi 30 persen kpd Kabupaten Bandung Barat dan Subang selaku pemilik wilayah administratif.
Gubernur Jabar Ahmad Hermawan telah berkirim surat kpd Menhut tertanggal 2 Desember 2009. Isinya, meminta Kemhut mencabut dan membatalkan Keputusan Menhut Nomor 306/Kpts-II/2009 yg memberikan izin pengusahaan pariwisata alam kpd PT GRPP. Namun surat itu belum dibalas Menhut.[-O-]

Senin, 04 Oktober 2010

Pesan Moral Dari Jayawijaya

DINGINNYA udara dan tebal kabut tidak menyurutkan niat para pendaki yg tergabung dalam tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia utk merayakan peringatan Hari Bumi di kawasan es Nggapulu, Pegunungan Jayawijaya, Papua, Kamis (22/4), atau di ketinggian sekitar 4.700 meter dpl.
Di kawasan yg jaraknya sekitar 150 meter lagi menuju Puncak Nggapul atau Soekarno tsb, mereka merenungkan arti penting bagi kondisi lingkungan saat ini. Pemanasan Global, perubahan iklim, kerusakan hutan, dan alih fungsi lahan membuat bencana semakin dekat pada manusia.
Sekitar 23 orang yg tergabung dalam tim Alfa dan tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia ini memiliki asa yg sama, yaitu perubahan perlakuan lingkungan utk kehidupan Bumi yg lebih baik.
Dari lebah Danau-Danau, tim Bravo berangkat sekitar pukul 08.00 WIT atau 06.00 WIB. Tim menempuh perjalanan sekitar 4 jam sebelum mencapai lokasi lokasi yg dituju, padang es yg diapit puncak Nggapulu dan Puncak Soemantri.
Sehari sebelumnya atau pada Rabu (21/4), tim Alfa sdh lebih dahulu berada dikawasan puncak Nggapulu. Mereka mendirikan tenda utk berlatih menginap di atas medan es. Tujuannya, agar mereka terbiasa dgn medan dan suhu ekstrim yg nantinya akan mereka hadapi di puncak-puncak gunung tertinggi lainnya.
Setelah kedua tim bertemu di atas medan es, mereka kemudian mendaki dgn berpegang tali agar dpt bergerak bersama. Namun, pekatnya kabut cukup menghambat perjalanan tim. Jarak pandang hanya sekitar 3 meter. Belum lagi dinginnya udara dan hujan yg mendera anggota tim. Agar tdk menggigil kedinginan, semua pendaki harus bergerak dan berjalan dalam jarak dekat.

Setelah tiba di padang es, sesama anggota tim saling mengamit tangan. Mereka mengheningkan cipta sejenak, kemudian disambung dgn nyanyian penyemangat. Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yopie Rikson membuka sambutan dalam ”seremoni” kecil itu. Dia menekankan, kegiatan ini hanya utk memberi pesan soal kerusakan lingkungan.

Anggota Wanadri angkatan 1968/1969 yg tergabung dalam Tim Bravo, Iwan Hignasto (58), mengungkapkan, perayaan Hari Bumi di kawasan es Nggapulu ini juga utk memberikan kesadaran secara luas kpd masyarakat akan ancaman pemanasan global.
"Pemanasan global membuat es menyusut di pegunungan Jayawijaya ini begitu pesat. Ada juga gejala lokalyg timbul, seperti banjir dan kekeringan," kata Iwan. Anggota Wanadri lainnya, Renny Tjahari (65), mengajak seluruh masyarakat agar mau bertindak sesuatu sesuai dgn kompetensi masing-masing. "Dengan menanam pohon atau mengurangi kegiatan yg menghasilkan polusi," ucapnya

Pemimpin Berani
Selain kesadaran masyarakat, menurut Erry Ryana Hardjapamekas, mantan Ketua Komisi Pemberantas Korupsi, yg tergabung dalam Tim Bravo, utk menangani persoalan lingkungan yg semakin parah dibutuhkan juga kebijakan yg berani dari pemimpin bangsa, baik dari kalangan eksekutif maupun legislatif.
Seperti halnya korupsi, kata dia, penanganan kerusakan lingkungan harus dgn kepastian hukum. Pemerintah bisa saja memberikan batasan masa pelanggaran yg dpt diampuni jika memang kesulitan mendeteksi waktu pelanggaran. "Misalnya, pemerintah mengampuni pelanggaran lingkungan yg pernah dilakukan hingga tahun 2000. Dengan catatan, perusak lingkungan harus memberikan denda senilai 50 persen sesuai dgn tingkat kesalahannya,"kata Erry.
Namun, setelah tahun yg ditentukan, pemerintah harus memberikan hukuman berat agar terdapat efek jera bagi perusak lingkungan meskipun berasal dari perusahaan besar. "Hanya saja, butuh pemimpin yg berani mengambil resiko utk membuat keputusan yg tdk populis tsb," kata Erry.
Tidak adanya keputusan yg tegas utk menindak perusak lingkungan, seperti perambah hutan secara liar, pertambangan ilegal, dan pelaku eksploitasi sumber daya alam secara masif, membuat dampak pemanasan global tdk akan bisa dicegah. Iwan menambahkan, parahnya dampak pemanasan global sekarang ini membuat masyarakat dunia beradaptasi dgn perubahan lingkungan, tdk lagi melakukan mitigasi.
Seusai upacar, tim kembali turun ke kamp terakhir di Lembah Danau-Danau. Selama perjalanan turun, mereka mengumpulkan sampah anorganik, baik yg mereka hasilkan maupun yg mereka temukan di sepanjang jalur, utk konservasi. Tak pelak, kampanye "kecil" tim ekspedisi pd hari Bumi ini memang ingin memberikan pesan moral bagi pemimpin bangsa. Keselamatan lingkungan hanya akan menjadi wacana jika pemimpinnya terus membiarkan eksploitasi lingkungan secara besar-besaran berlangsung.[-O-]

Rabu, 01 September 2010

Turunkan Emisi Karbon di Rumah

Destia Mariana (26) tidak pernah menyangka kalau kamar dan rumahnya juga penghasil polusi gas rumah kaca yg memicu pemanasan global dan perubahan iklim. Itu baru diketahuinya setelah ia secara sukarela membeberkan aktifitas kesehariannya kpd Klinik Diet karbon yg digelar dalam Clinic Help-Climate Justice for Earth di Taman Suropati, Minggu (25/4).
Ia menyimak dan menjawab dan menjawab pertanyaan Musfarayani, staf iESR, yg mengisikan data aktivitas keseharian Dest!a dalam kalkulator Jejak karbon. "Berapa watt lampu terbesar d! rumah anda?" tanya Musfarayan!. Dest!a tertegun, meng!ngat-!ngat. "kalau tdk salah 20 watt. Ada tujuh lampu d! rumah. Menyala sek!tar 16 jam per har!," Dest!a menjawab dgn ragu.
Mustafarayan! memasukan data !tu ke dalam kalkulator Jejak karbon, perant! lunak d! komputernya. Perant1 lunak 1tulah yg mengh1tung jejak karbon, al1as jumlah em1s1 gas rumah kaca yg d1produks1 suatu organ1sas1, produk atau 1nd1v1du.
Dest1a menuturkan, telev1s1nya menyala tujuh jam sehar1, sementara komputer menyala sek1tar t1ga h1ngga empat jam per har1. Peranak nas1 berpenghangat d1 rumahnya menyala 24 jam sehar1, sementara k1pas ang1n menyala satu jam per har1.
Set1ap har1 Dest1a memaka1 sek1tar delapan lembar kertas 70 gram utk mencatat ataupun mencetak sejumlah dokumen pr1bad1nya. Untungnya, 1a memaka1 ulang kertas yg sudah terpaka1 d1 salah satu s1s1nya, seh1ngga jejak karbon pemaka1an kertas 1tu berkurang.
Dest1a jarang membel1 a1r meneral dalam kemasan karena 1a rela repot membawa tempat m1num send1r1. 1a juga pengguna angkutan massal, set1ap har1 1a menumpang angkutan kereta ap1 utk perg1 dar1 rumahnya d1 Bekas1 menuju kantornya d1 Harmon1.
Apakah anda selalu menghab1skan makanan d1 p1r1ng anda? Mustafarayan1 bertanya lag1. Dest1a mengangguk mantap.
Namun, ada suara d1 belakangnya, "Waduh yg 1tu gue kena, tuh. Gue tdk pernah b1sa menghab1skan makanan d1 p1r1ng gue," keluh Non1k Yul1ant1 (25) yg sedar1 tad1 menonton pengh1tungan jejak karbon Dest1a. Mustafarayan1 tersenyum. "Meny1sakan seperempat p1r1ng makanan 1tu sama dgn menghas1lkan em1s1 3 gram setara CO2, jad1 hab1skan makanan d1 p1r1ng anda.
Mustafarayani memasukkan semua data aktivitas Destia dalam piranti lunak Kalkulator Jejak karbon, "Gaya hidup anda menghasilkan emisi karbon 16.928, 56 gram setara Karbon dioksida (CO2)," kata Mustafayani memberitahu Destia.
Destia tercengang. "Saya sudah sering mendengar pemakaian kendaraan pribadi itu menimbulkan emisi gas ruang kaca. Saya agak terkejut juga ketika menyadari, ternyata aktivitas saya dirumah juga menghasilkan emisi gas rumah kaca.," kata Destia seusai mengikuti penghitungan jejak karbonnya.
Mustafarayani menenangkannya. "Tenang, kami bukan meminta anda menghentikan aktivitas sehari-hari itu. Kami hanya ingin memberitahu, agar anda bisa merencanakan sendiri pengurangan emisi gas rumah kaca dari aktivitas anda," ujarnya.

Membangkitkan Kesadaran
Mustafarayani tdk sedang menghakimi orang yg dgn sukarela mau menghitung jejak karbon mereka. Mustafa dan IERS hanya ingin membangkitkan kesadaran bahwa setiap orang adalah poluter emisi karbon. Setiap orang dalam hidupnya menghasilkan emisi yg membuat selimut rumah kaca bumi kian tebal.
"Itu berarti setiap orang juga bisa berbuat utk mengurangi emisi karbon di bumi ini. Tidak ada patokan apakah seseorang dgn emisi karbon 20.000 gram setara CO2 misalnya, akan digolongkan sbg poluter yg parah karena berapa jejak karbon seseorang bergantung pd gaya hidup masing-masing. Yang penting, apa rencana orang itu utk mengurangi emisi karbonnya,"kata Mustafa.
Kalau anda membiarkan lampu 10 watt tetap padam, anda mengurangi emisi karbon sebanyak 0,51 gram setara CO2. Dari pada mengendarai sepeda motor, berjalan kaki utk berbelanja di warung berjarak 500 meter dari rumah lebih menghemat 14,8 gram setara CO2.
Mengurangi pemakaian satu lembar kertas 70 gram saja bisa 226,8 gram setara CO2. ikuti langkah Destia yg memilih membawa botol minuman sendiri ketimbang membeli air minum dalam kemasan karena pembuatan setiap botol air mineral menghasilkan emisi karbon 841,5 gram setara CO2.
Lalu, berapa emisi karbon yg anda hasilkan dalam keseharian anda? Mudah saja, buka situs http://www.iesr-indonesia.org. lalu klik ikon "Kalkulator Jejak karbon" di bagian kanan halaman situs itu. Hitunglah sendiri berapa jejak karbon dalam kehidupan sehari-hari, dan rencanakan pengurangan emisi karbon anda hari ini juga.
"Kalau kita mau memerhatikan, pengurangan emisi karbon di rumah kita sebenarnya adalah penghematan yg nantinya akan mengurangi biaya rutin bulanan kita. Tetapi, lebih dari pada hitungan ekonomi, ternyata berhemat juga mengurangi beban pencemaran bumi atas emisi karbon," kata Mustafarayani.[-O-]

Rabu, 09 Juni 2010

Lestarikan Lingkungan Demi Generasi Penerus.

TIDAK TANPA SEBAB jika gugusan kepulauan yg tersebar di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik disebut sbg ”Zamrud Khatulistiwa”. Indonesia tdk hanya diberkahi suber daya alam yg melimpah, tetapi juga tamasya alam yg hijau dan indah, sehingga pantas dijuluki sebagai ”zamrud”

NAMUN keindahan itu kian terancam kini. Seperti diutarakan Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan dalam sebuah kesempatan baru-baru ini, dari 130 juta hektar hutan di Indonesia, hanya 43 juta hektar yg kondisinya masih baik yakni dalam kondisi subur dan lebat. Selebihnya ada yg sudah beralih fungsi menjadi pertambangan, ada pula yg bekas HPH (hak penguasaan hutan). Yg memprihatinkan, jumlah hutan yg benar-benar sudah rusak mencapai 40 juta hektar dari keseluruhan hutan Indonesia.

Tentu saja, menimpakan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan dan alam Indonesia semata ke pundak Pemerintah bukan sikap yg tepat. Dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan industri dan individu untuk untuk sama-sama menjaga kelestarian alam.

Alam yg lestari memiliki banyak manfaat. Terkait isu pemanasan global, rusaknya hutan ditengarai menjadi salah satu penyebab. Oleh karena itu, penanaman pohon dan penghijauan kembali dapat berkontribusi untuk mencegah pemanasan global. Selain itu, hutan yg lebat berfungsi sebagai paru-paru yg menyegarkan kembali udara kotor akibat polusi. Dan, tamasya alam yg hijau permai juga berpotensi menggerakkan wisata alam.


Mangrove

Pentingnya pelestarian alam menjadikan banyak perusahaan menjadikan masalah lingkungan sebagai salah satu sasaran program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). Salah satunya adalah PT HM Sampoerna Tbk. Di bidang pelestarian lingkungan, Sampoerna memiliki tiga fokus program yg secara konsisten dilakukan dgn pendekatan kolaboratif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sambil memfokuskan pada kesinambungan hubungan program.

Ketiga fokus program tsb yakni program konservasi mangrove di pantai timur Surabaya, program konservasi hutan yg di gunung arjuna, dan program hutan lestari di Lombok.

Hutan mangrove memiliki peran penting untuk menjaga keanekaragaman hayati di tepi pantai. Dalam upaya untuk mengembalikan potensi keanekaragaman hayati hutan mangrove di pantai Timur Surabaya, dan utk membuat arah pembangunan daerah yg memperhitungkan nilai-nilai konservasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat ekonomi, dan eko-pariwisata, Sampoerna bekerja sama dgn mitra, masyarakat dan pemerintah Surabaya utk melestarikan potensi keanekaragaman hayati hutan mangrove di pantai timur Surabaya. Hutan mangrove di Surabaya merupakan bagian dari solusi ruang hijau terbuka di kota, pengurangan polusi udara, mengurangi resiko bencana, (Tsunami), serta melestarikan kekayaan dan keanekaragaman hayati ekosistem di hutan mangrove.

Sehubungan program tsb, ada 9 Agustus 2009, Sampoerna berpartisipasi dalam drive penanaman mangrove dan pembukaan pos pengamatan Gunung anyar yg melibatkan sekitar 700 sukarelawan yg menanam sekitar 5.000 bibit mangrove.

Selanjutnya pada 13 Desember 2009, Sampoerna menyelenggarakan penanaman mangrove di pantai Timur Surabaya, Wonorejo. :ebih dari 300 orang berpartisipasi dan melakukan penanaman 2.000 bibit mangrove. Memasuki tahun 2010, pada 27 Maret 2010, Sampoerna didukung Universita Airlangga dalam penanaman mangrove di Wonorejo-Surabaya yg disebut “Psygogreen” Program ini dihadiri oleh 470 orang dan penanaman 1.000 bibit mangrove.


Konservasi Hutan

Seperti disebutkan, semakin berkurangnya hutan Indonesia sangat memprihatinkan. Terkait pelestarian hutan, Sampoerna menjalankan konservasi hutan di Gunung Arjuno dan program hutan lestari di Lombok.

Konservasi hutan di Gunung Arjuno dilatari untuk mengurangi risiko kebakaran dan rehabilitasi lahan kritis. Untuk itu, pendekatan yg diambil adalah pengembangan konsep hutan asuh yg melibatkan penduduk desa setempat ntuk meningkatkan potensi ekonomi masyarakat lokal melalui bidang kewirausahaan sebagai alternatif penghasilan.

Terkait kegiatan konservasi, pada 17 Maret 2010 lalu, Sampoerna mengadakan upacara utk mengadakan program reboisasi 50 ha di Gunung Arjuno dgn penanaman 23.500 bibit pohon dgn melibatkan masyarakat lokal dan kelompok petani 200 orang dari berbagai organisasi seperti Sampoerna Volunteers Club (SVC), media dan petani lokal bergabung dalam upacara untuk menanam bibit pohon terakhir di hutan Gunung Arjuno. Program ini meliputi inisiatif pemberdayaan utk 60 petani setempat yg akan menjadi pengasuh program reboisasi.

Pada 27 Januari 2010, Sampoerna bekerja sama dgn pemasok tembakau PT Shadana Arif Nusa melaksanakan program kemitraan berbasis pelestarian lingkungan hidup di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada kesempatan tsb, Sampoena menanam bibit pohon lebih dari tujuh juta utk rehabilitasi hutan, pelestarian lingkungan dan promosi pertumbuhan ekonomi lokal. Kegiatan yg dinamakan program hutan lestari tsb bertujuan merehabilitasi lahan kritis sekaligus menjadikannya sebagai hutan Tanaman Cadangan Pangan dan Energi (HTCPE) yg berperan sbg sumber untuk cadangan pangan dan energi yg terbarukan. Melalui program tsb, Sampoerna memberikan peluang kpd masyarakat di sekitar lokasi lahan kritis untuk terlibat dalam program kemitraan pengelolaan lahan 1.200 hektar dan program pemberdayaan ekonomi. Program hutan Lestari mencerminkan dukungan Sampoerna dari program ”NTB Hijau” yg digalakkan oleh Pemerintah Provinsi NTB pd tahun 2008.

Penghargaan

Pengakuan terhadap peran aktif Sampoerna dalam menjalankan program pelestarian lingkungan terbukti dgn penerimaan piagam penghargaan ”Wanalestari” dari Kementrian Kehutanan RI. Penghargaan tsb diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan kepada Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk. John Gledhill yg turut disaksikan oleh Bupati Pasuruan, DEDE Angga, serta Direktur PT HM Sampoerna Tbk, Yos Ginting, di lokasi Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKS), Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, pada 5 Mei 2010 lalu.

Pada kesempatan tsb dilakukan juga penanda tanganan nota kesepahaman sebagai bagian program penanaman 1 Miliar pohon. Hal tsb merupakan wujud komitmen Sampoerna untuk meneruskan program-program pelestarian lingkungan. Menteri kehutanan berkomentar, ”Saya sampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT HM Sampoerna Tbk. Atas inisiatif dan peran sertanya dalam program-program perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan, dan pengelolaan hutan lestari.

Apa yg telah dilakukan Sampoerna merupakan salah satu contoh dan tentu saja masih dibutuhkan upaya dan kerja sama dari berbagai pihak untuk terus bahu-membahu melestarikan hiajunya zamrud khatulistiwa. Jika bukan kita, siapa lagi yg akan melakukannya?[-O-]

Senin, 07 Juni 2010

PERUSAK LINGKUNGAN

Penyanyi Iwan Fals (49) geram dengan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia, baik akibat penebangan pohon maupun penambangan. Kerusakan alam itu akan membawa berbagai bencana dan merugikan generasi-generasi berikutnya.

”Para perusak lingkungan itu bento atau penjahat. Mereka harus dibongkar,” kata penyanyi bernama asli Virgiawan Listanto itu di Desa Trengguli, kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pekan lalu.

Pelantun lagu ”Bento” dan ”Bongkar” itu menyampaikan kegalauan hatinya dalam acara penanaman 2.767 pohon Trembesi Djarum Trees for Life di sepanjang turus jalan Semarang-Kudus. Pada kesempatan itu, dia menyanyikan tiga lagu dari album terbarunya, Keseimbangan, yaitu ”Hutanku”, ”Pohon Kehidupan”, dan ”Tanam Siram Tanam”.

Sebagai kritik atas perusak lingkungan, Iwan menyanyikan lagu ”Bento” dan ”Bongkar”. Sontak dua lagu tenar itu disambut antusias para penggemar Iwan Fals, Orang Indonesia (OI), dan puluhan warga Demak, yg berjingkrak-jingkrak di tengah-tengah hujan.

Iwan, yg sempat turun panggung berhujan-hujan bersama penonton itu, menutup ”mini Konser” nya dgn pesan bernada satire. ”Jangan menanam ribuan pohon saja, tetapi tidak memperhatikan perawatannya. Berani menanam, berani pula menyiram,”ujarnya.[-O-]

Sekolah Alam.

Pebulu tangkis Alan Budikusuma (42) dan Susi Susanti (39) khawatir terhadap kondisi lingkungan hidup di Indonesia. Perusakan alam dan populasi udara terjadi dimana-mana. Mereka prihatin pada masa depan anak-anak Indonesia.

”Mereka butuh lingkungan bersih. Polusi itu penyakit bagi semua orang khususnya anak-anak,” kata Susi di desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pekan lalu,.

Untuk itu, sejak dini, seorang ibu wajib memberikan pengertian kepada anak-anaknya tentang lingkungan hidup. Misalnya,mengajak anak-anak ”sekolah” atau belajar tentang alam di tempat yg banyak pohon, seperti di Puncak., Bogor.

”Di rumah, kami mengajari anak menanam dan merawat pohon, sampai mereka bangga menyebut ini pohonku, sebagai rasa kepemilikan pohon itu,” kata Susi. ”Tapi, tak hanya anak-anaka yg butuh pohon. Atletpun perlu, agar mereka bisa mengghirup udara segar dan istirahat di bawah pohon,” ujar Alan.

Pasangan perebut medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini menyatakan hal itu pada acara penanaman 2.767 pohon trembesi Djarum Tres for Life di turus jalan Semarang-Kudus. Mereka meminta agar masyarakat dan pemerintah berupaya menciptakan lingkungan yg bersih.[-O-]

Rabu, 19 Mei 2010

Pulihkan Segera Lingkungan

Kondisi lingkungan Indonesia harus segera dipulihkan karena kondisinya sudah amat genting yg ditandai dengan jumlah bencana yg terus meningkat dari tahun ke tahun. Inisiatif pemulihan lingkungan oleh pemerintah pasti akan didukung rakyat.
Demikian dikemukakan Ketua Institute Hijau Indonesia Chalid Muhammad saat dihubungi, Kamis (22/4), bertepatan dgn Hari Bumi. ”Pemulihan bisa diawali dengan menghentikan proses perusakan, caranya dengan menghentikan pemberian izin konversi kawasan, dan perizinan eksploitasi yg berpotensi merusak lingkungan,” ujarnya.
”Penting dilakukan, Presiden dan DPR merancang sebuah kesepakatan politik utk upaya pemulihan, bukan hanya pada dimensi ekologis,, melainkan juga pemulihan politik, juga kehidupan sosial kemasyarakatan sesuai spirit para pendiri bangsa,” Chalid menambahkan. Dia yakin rakyat akan mendukung sepenuhnya karena pemulihan ini adalah demi keberlanjutan nasib bangsa.
Misalnya, untuk memulihkan 45 juta hektar kawasan kritis bisa melibatkan 20 juta keluarga, masing-masing memulihkan 2,5 hektar. Ekonomi rakyat terbantu dan mereka mencintai kawasan yg dipulihkan," katanya. Ekonomi rakyat terbantu dan mereka mencintai kawasan yg dipulihkan," katanya.
Seruan senada disampaikan Wahana Lingkungan Hidup Indunesia (Walhi) dalam siaran pers yg ditanda tangani Direktur Eksekutif Nasional Walhi Berry Nahdian Furqan dan Ketua Nasional Yani Sagaroa.
"Penting bagi seluruh rakyat Indonesia untuk secara bersama-sama melakukan upaya penyelamatan dari berbagai sisi ekologi, ekonomi, sosial, dan politik," kata Walhi. Menurut Walhi, tanah air Indonesia hanya menjadi sumber eksploitasi negara-negara industri maju dengan mengincar sumber daya alam, pasar dan buruh murah.
Di Kabupaten Tanggamus, Mentri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan, pemerintah tidak bisa lagi mengutamakan pendekatan represif pada pelestarian hutan. “Hutan lindung kini boleh dikelola warga. Harapannya, hutan hijau kembali, warga tetap sejahtera dan masyarakat sendiri penjaganya,” ujar Zulkifli merujuk pola usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan.

Unjuk Rasa Marak
Di sejumlah wilayah terjadi unjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat mulai dari mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat,, dan pemerhati lingkungan. Sementara sebagian masyarakat melakukan aktivitas penanaman bakau dan pohon sebagai kontribusi pemulihan lingkungan.
Mahasiswa se-Maluku yg berunjuk rasa di Kantor Gubernur Maluku menyampaikan tuntutan agar penggundulan hutan di Ambon dihentikan.
Di Banjarmasin, sekitar 50 masa menyerukan penghentian pemberian izin pertambangan batu-bara. Mereka menuding kegiatan eksploitasi itu sebagai salah satu penyebab parahnya kerusakan bumi.
Kemarin, habitat satwa langka owa jawa atau Hylobates moloch di blok hutan Tiwel, Desa nangerang, kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dipulihkan. Blok hutan alam sekitar lima hektar itu disatukan dengan hutan alam yg berada di wilayah Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.
Para pencinta lingkungan dari perusahaan jasa konsultan audit internasional Mazars, bekerja sama dengan Conservation International-Indonesia, perkumpulan pecinta lingkungan Gedepahala, dan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, menanami 5 hektar area yg semula sebagai hutan produksi itu.[-O-]

Rabu, 12 Mei 2010

250 Orang Menjadi Pembawa Pesan Perubahan Lingkungan

Sekitar 250 orang telah resmi menjadi pembawa pesan tentang perubahan iklim. Mereka akan berkiprah sebagai pembawa pesan untuk membangkitkan warga agar sadar terhadap penyebab, dampak, dan solusi mengatasi perubahan iklim.
Sekitar 250 orang telah mendapat pelatihan dari kelompok presenter perubahan iklim The Climate Project Indonesia (TCPI) melalui program Grand Connectors Training di Jakarta, Sabtu (24/4). Mereka para calon penghubung, pembawa pesan ini, terpilih dari sekitar 1.500 peminat dari seluruh Indonesia. Selain dari sejumlah kota di Jawa, peserta juga ada yg datang antara lain dari Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Bali.
Latar belakang peserta juga sangat beragam, antara lain pejabat negara, dosen, peneliti, guru, Puteri Indonesia, petani, pegiat LSM, pelajar, aktivis, profesional, pemuka berbagai agama dan ibu rumah tangga. “Latar belakang” peserta sangat bagus dan penting karena informasi tentang perubahan iklim perlu dipahami oleh semua orang dari seluruh lapisan masyarakat,” kata Amanda Katili Niode, Ketua The Climate Project Indonesia.
Saat ini ada 54 warga Indonesia yg telah dilatih langsung oleh Al Gore dan menyandang status presenter. "Kami perlu sebanyak-banyaknya orang untuk menyebarkan virus pengetahuan akan penyebab, dampak, dan solusi tentang iklim," ujarnya. "Kami mengajak sekolah dan lembaga lain agar dapat bekerja sama dengan presenter dan coneccter untuk melaksanakan berbagai kegiatan," ujar Amanda.
Mereka amat antusias dan memiliki komitmen tinggi walau materi ada yg terlalu berat bagi peserta tertentu, terutama tentang negosiasi global,” ujar Yani Saloh, salah satu presenter dari TCPI. Pemghargaan diungkapkan Amanda, “Kami amat menghargai para connector yg mau ikut pelatihan dan berkomitmen untuk menyebarkan informasi dan berkegiatan.”
Peserta termuda , Fira Meutia (11 tahun) dari SD Nurul Hidayah, Reni Jaya, Depok, mengatakan, “saya ingin tahu lebih banyak tentang pemanasan global. Sebelumnya, tahu sedikit dari majalah, internet, dan buku. Saya mau kasih tahu teman-teman dan juga ingin menulis artikel untuk Koran.”
Arifah Handayani, seorang Sarjana Ilmu Kelautan, yg menyebut dirinya “a full time mom, mengungkapkan, “sebagai ibu rumah tangga dengan empat anak, saya merasa keluarga adalah kunci untuk mengurangi karbon. Saya akan memulai penanggulangan krisis penaggulangan iklim dari keluarga saya.” [-O-]

Jumat, 05 Maret 2010

TAHUN BIODIVERSITAS

PBB menetapkan tahun 2010 sebagai Tahun Biodiversitas (keaneka ragaman hayati) Internasional dgn semboyan “Biodiversity is life”, hidup memerlukan keanekaragaman. Biodiversitas merupakan salah satu landasan kesejahteraan dan kelestarian hidup manusia dan penghuni Bumi lainnya. Dengan ini PBB secara spesifik hendak membangkitkan kesadaran publik dan menggalakkan aliansi global agar aktif bergiat dalam mengupayakan keberlanjutan dan meredam bahaya punahnya populasi tumbuhan dan hewan di alam, baik di darat, laut, maupun udara.
Istilah biodiversitas atau biological diversity menembusi zona diskusi ilmiah politik dan ruang public sejak tahun 1980-an. Gebrakan ini cukup kuat dipengaruhi oleh ahli biologi Amerika Serikat, Edward Osborne. Wilson, dengan karyanya Biodiversity anf Diversity of life. Konferensi tingkat tinggi iklim sedunia di Rio da Janeiro tahun 1992 juga menyepakati perlindungan keaneka ragaman hayati (convention on biological diversity/CBD). Salah satu kesepakatan penting konferensi Rio ini ditanda-tangani oleh 167 negara, diratifikasi oleh 30 negara, dan mulai berlaku secara resmi sejak tanggal 29 Desember 1993. Kelak ditetapkan tanggal 22 Mei sebagai Hari Biodiversitas Internasional.

Ancaman Kolosal
Biodiversitas pada prinsipnya berkaitan dgn keseluruhan hidup dan keaneka-ragamannya dalam segala bentuknya di planet ini. Yang dimaksudkan adalah keragaman semua organisme hidup dgn hewan, tumbuhan, mikro-organisme (bakteri, virus, jamur) juga keaneka ragaman genetic intern setiap jenis dan perbedaan lingkup hidup (ekosistem dan biosfir).
Sejak Aristoteles (384-322 SM), proses kategorisasi dunia flora dan fauna telah dimulai. Menariknya, para ilmuwan mengetahui lebih banyak tentang jumlah bintang di galaksi ketimbang jenis hewan dan tumbuhan di Bumi.
Memang hingga kini belum diketahui secara pasti berapa banyak makhluk hidup yg ada di Bumi ini. Diperkirakan sekitar 15 Miliar jenis. Yg telah diklasifikasi oleh taksonom sekitar 1,8 miliar dan dari jenis itu sekitar 40.000 jenis yg terancam punah serta 150 jenis yg punah setiap hari. Kisah sedih ini berjalan kontinu. Lebih dari 70 persen aneka ragam hayati berhabitat di negar-negara tropis dan sub tropis.
Salah satu ancaman kolosal terhadap kelanggengan biodiversitas adalah kehilangan ruang hidup. Lingkungan hidup yg harmonis bukan hanya berubah secara drantis, tetapi begitu gigantis dirusakkan oleh pemanasan global, pencemaran, kontaminasi, pemupukkan dgn dosis tinggi, pembasmian hutan, penangkapan ikan dan berburu secara liar, eksploitasi sumber-sumber alam secara serakah dan struggle of life antar spesies.
Laju perusakkan lingkungan hidup yg kian gencar terjadi di negara-negara Industri baru dan negara-negara berkembang yg dipacu oleh politik pembangunan dengan sasaran mengejar ketertinggalan. Di sini saya tergoda untuk mengutip Aristoteles :”banyak ketidak-adilan besar dilakukan oleh pihak yg secara serakah mengatasi ketertinggalan , bukan berasal dari mereka yg didorong oleh kemiskinan.”
Bapak biodiversitas, EO Wilson, berargumentasi bahwa ”dengan merusak lingkungan , pada prinsipnya manusia sedang mempersiapkan kematian massal”. Yang memegang tanggung jawab untuk cerita sedih ini adalah Homo Sapiens. Segalanya ada di tangan manusia, entah kita menjarah atau menghancurkan Biodiversitas.

Sangat Eksistensial
Hidup manusia tak bias dipisahkan dari keragaman alam. Dari alam kita mendapat makanan, minuman, tempat berlindung, obat-obatan Oksigen, dan seterusnya. Biodiversitas dgn ini sangat eksitential. Keanekaragaman hayati merupakan asuransi hidup dalam dunia yg selalu berubah. Untuk itu, perlu dijaga bukan saja keberlangsungan hidup, tetapi juga keseimbangan hidup segala spesies. Jika satu spesies punah, spesies yang lainnya juga terancam raib.
Alam ini begitu kaya, tetapi kekayaan itu perlu dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Tahun biodiversitas merupakan kesempatan emas bagi kita untuk merenungkan kembali apa yg telah kita lakukan dalam rangka langgengnya biodiversitas, dimana letak tantangan masa depan dan di mana serta bagaimana kita seharusnya bertindak. Tahun Biodiversitas juga mengingatkan kita terhadap kiat sustainable depelopment dan mengeliminasi gaya hidup konsumtif-parasit serta mengajak kita untuk berpikir regeneratif.
Slogan lama yg disuara-suarakan oleh TVRI dgn sasaran pelestarian lingkungan hidup semasa Kabinet Pembangunan kembali terasa relevan :"Dunia ini bukanlah milik kita, tetapi pinjaman generasi mendatang. Penulis Swiss, Friedrich Duerrenmatt, menulis,: "Was die Zukunft bringt, wissen wir nicht, aber dass wir handeln muessen, wissen wir" (Kita tidak tahu apa yg dibawa masa depan, tapi kita tahu bahwa kita harus bertindak).[-O-]