Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2011

Mereka Yang Lahir di Luar Harapan

Di TPU Genteng Keniten, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, anak laki-laki yg “dibuang” orangtuanya di Mangunsuman, Siman, Ponorogo, mengakhiri eksistensinya di dunia ini, Sabtu (7/3). Pukul 21.55, Jumat (6/3), nafasnya berhenti di RSUD Dr Harjono, Ponorogo.
Adanya benda asing berupa biscuit di dalam paru-parunya, disebut aspirasi, diperkuat hasil pengecekan laboratorium berupa leukosit yg tinggi sbg tanda adanya infeksi, menjadi penyebab meninggalnya anak itu.
"Sepertinya sebelum dibuang, anak itu dipaksa makan biskuit dalam jumlah banyak sehingga biskuit biskuit bisa masuk ke pau-paru. Mungkin saja anak diberi makan yg banyak supaya tdk kelaparan," kata Dr. Rony Julianto, dokter yg merawat anak itu di RSUD Harjono.
Di pinggir jalan raya Ponorogo-Kecamatan Pulung, persisnya di Kelurahan Mangunsuman, seorang anak malang tdk diketahui identitasnya ditemukan warga setempat meringkuk di dalam kardus bekas televisi, sekitar pukul 05.30, Jumat (6/3) Bersama anak itu terdapat sejumlah pakaian anak di dalam kantong plastik. Kondisinya sangat menggenaskan. Anak yg usianya diperkirakan sekitar enam tahun itu sangat kurus, beratnya tdk sampai 10 kg (normalnya bisa 20-25 kg). Pertumbuhan kaki dan tangannya tdk sempurna. Selain itu, dia tdk bisa ngomong. Dia hanya bisa menangis.
Menurut dr.Rony, anak itu cacat sejak lahir Itulah yg menyebabkan bentuk tangan dan kakinya tdk sempurna. Anak itu juga mengalami retardasi mental yg membuatnya tdk bisa berbicara. Bisa jadi, kondisi anak yg cacat inilah yg membuat orangtua atau keluarga anak itu tega membuangnya. Tentu dgn harapan ada orang lain yg menemukannya dan mau merawatnya. Namun, apakah hal itu suatu yg dibolehkan? Pasti tdk jawabannya.
Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Tgl 23 Novenber 2007, ada pula anak yg kondisinya tdk sempurna, "dibuang" keluarganya di pasar besar, Madiun. Anak yg diperkirakan masih berusia sekitar tiga bulan itu berkepala sangat besar atau dalam bahasa medisnya terkena penyakit hydrocephalus berat. Anak yg kemudian diberi nama Nus Ahmad itu lalu dirawat di ruangan Melati RSU dr.Sudono, Madiun. Sampai kemarin,, Nur Ahmad yg lingkar kepalanya sampai 72 cm, atau dua kali lebih besar dari ukuran normal pada bayi seusianya, masih berada di salah satu ruangan di Melati.
Namun, ukuran kepalanya yg terlalu besar membuat gerak Nur sangat terbatas. dia hanya bisa menggerakkan tangan dan kakinya dalam posisi badan terlentang. Tdk bisa memiringkan badan ke kiri/kanan, merangkak, duduk, atau berjalan seperti anak lain seusianya.
Kehidupan Nur sekarang sepenuhnya bergantung pd kasih sayang perawat-perawat di ruang Melati yg secara bergantian merawatnya, menggantikan peran yg seharusnya diberikan oleh orangtuanya.
Sosiolog dari Univ. Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, menilai anak-anak yg lahir tdk sempurna yg dibuang orangtuanya ini termasuk kelompik yg kelahirannya tdk dikehendaki atau tdk sesuai dgn harapan orangtuanya. Orangtua lalu memilih membuang atau bahkan dalam beberapa kasus rela membunuhnya.
Anak-anak itu dianggap sebagai aib keluarga yg membuat orang tua atau keluarganya malu. Kasus ini terus terjadi di Indonesia karena orang tua anak atau pun keluarganya yg berpendidikan rendah sehingga memilih mengambil jalan pintas (membuang atau membunuh anak itu) utk menghilangkan aib tsb.
Disamping faktor pendidikan, menurut Dekan Fakultar ISIP Universitas Merdeka, Madiun, Bambang martin baru, ada pula faktor moralitas dan kemiskinan. Tdk dapat dipungkiri, kemiskinan menjadi faktor penghambat dominan bagi seseorang utk bisa memahami secara utuh tentang kehidupan.[-O-]

Minggu, 20 Februari 2011

Komodo, Obsesi Indonesia 100 Persen

ENAM penari mengakhiri tarian dgn membuka paying kertas putih bertuliskan beberapa suku kata. Ketika dibaca, rangkaian paying-payung itupun bertuliskan “100 % Indonesia”. Seusai meletakkan paying itu di panggung mereka sekali lagi membuka paying lainnya hingga terurai kalimat “Bus Komodo”.

Suara klakson bus pun terdengar, sebuah bus temple produksi PT Asian Auto International (AAI) berjalan perlahan dan berbelok menembus tirai putih memasuki sisi panggung. Itulah peluncuran bus gandeng Komodo yg menjadi obsesi Karya Indonesia seratus persen.

Peluncuran yg dilakukan di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Selasa (23/9) siang, itu cukup unik. Peresmian yg biasanya menggunakan sirene diganti dengan mengelus patung Komodo. Peluncuran ini menandai “penyerahan” produksi AAI kpd pemesan perdananya, PT Eka Sari Lorena Transport, sebelum dioperasikan menjadi sarana angkutan massal.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris, yg didaulat mengelus patung komodo sebanyak tida kali, pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Heran. Apalagi peluncuran itu disaksikan Dubes Malaysia utk RI Dato Zainal Abidin Zain.

Bus berwarna abu-abu dan berdisain binatang khas Indonesia, komodo, itu dirancang dgn ketinggian lantai 110 cm dan panjang 18 meter. Bus produksi dalam negri ini menggabungkan komponen terbaik yg terdapat di sebagian besar bus kota di Eropa.

Komodo adalah contoh bagaiman kerjasama dan kemitraan internasional mampu menguntungkan perusahaan-perusahaan lokal dalam merekayasa kendaraan niaga berteknologi maju. “Betul, secara teknologi permesinan, kita memang masih bergantung pd impor Jerman dan Korsel. Paling tidak, body dan chasis serta beberapa komponen penunjang lainnya sudah diproduksi di Indonesia sekitar 50 persen,” kata Direktur Manufaktur AAI Bus B Muljadi.

Presdir AAI Ruddy Soesilo mengatakan, bus temple ini berbahan baker gas alam terkompressi. Pendiri AAI telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam industri otomotif dan transportasi. Komodo dirancang di atas rangka penopang (chasis) secara monoque dan berlantai tinggi yg memberikan kekuatan, kestabilan, dan kendali.

Bus ini memiliki kekuatan tenaga mesin 340 HP (horse power) dari Infracore Doosan (Korea). Bus inipun didisain utk menghasilkan tenaga torsi mencapai1.373 Nm dgn respon seketika terhadap katup atur, percepatan siaga, dan kemampuan lagging pd putaran rendah.

Mesin ini digabungkan dgn transmisi otomatis DIWA 3 Voith (Jerman) yg menghasilkan perpindahan gigi lebih halus dan dilengkapi rem pelambat yg menyatu pd transmisi. Dgn demikian, efek pengereman lebih tanggap sehingga mengurangi kemungkinan timbulnya panas yg berlebihan dan kehausan komponen.

Untuk mendukung bebanberat, axle ratio dirancang pada 6,8 yg secara keseluruhan menghasilkan penghematan Bahan Bakar dan pengurangan keausan pd komponen. Ini berdampak pd turunnya biaya permeliharaan. AAI memproduksi bus itu atas pesanan PT Eka Sari Lorena Transport seharga Rp.4 Miliar (off the road) per unit utk kebutuhan busway transjakarta koridor V (rute Kp Melayu-Ancol), yg akan segera dioperasikan. Hingga kini, 13 bus tempel ini hampir selesai diproduksi di kawasan Bukit Sentul, Bogor.

Bus tempel ini merupakan salah satu jawaban kebutuhan pemerintah utk mendukung moda transportasi massal, sekaligus sarana penghemat subsidi bahan bakar minyak. Kita tunggu saja.[-O-]

Mencari Tuhan di Kota Metropolitan

Malam hari saat kota Jakarta masih penuh hiruk pikuk, sejumlah orang memilih menyendiri lewat iktikaf, yaitu berdiam diri sambil beribadah di mesjid pd malam-malam terakhir Ramadhan, mereka berusaha mencari kedamaian.

Suasana di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/9) malam, cukup tenang. Sekitar pukul 22.00 Endri Sudiro (42), seorang lelaki kurus berkaca mata, memasuki Mesjid sambil sambil menjinjing tas hitam. Ia duduk tenang di ruang shalat.

Biar tak perlu keluar-keluar masjid lagi, ia membawa bekal dalam tas hitamnya, yaitu aneka kue pengganjal perut. Untuk sesaat, ia mencermati ceramah Prof KH Mustofa Yakub, guru besar Masjid Sunda Kelapa, tentang ibadah. Selesai ceramah, Endri kemudian berdiam diri lagi. "Di sini saya merenungi kesalahan-kesalahan saya," katanya.
Lelaki itu bercerita. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren di Bogor, Jawa Barat. Hingga duduk di bangku SMA, ia cukup rajin beribadah, termasuk beriktikaf saat Ramadhan. Namun, kehidupan berubah 180 derajat ketika ia menjadi pemain keyboard dalam salah satu grup musik. Kemudian, ia pindah ke Jakarta dgn status baru sbg musisi beken.
Tanpa bekal ketahanan mental, ia terseret dalam sisi gelap dunia hiburan. "Mulai dari bermain perempuan, mabuk-mabukan, pakai narkoba, semua pernah saya lakukan. Uang belasan juta bisa habis dalam sehari utk foya-foya ke tempat hiburan. Satu rumah dan dua mobil amblas," kenangnya dgn wajah murung.
Kehilangan harta benda dan merasa putus asa membuat dirinya kepepet, lantas teringat kepada Tuhan. Endri kemudian mencoba menekuni iktikaf lagi. Suatu kali, ketika sedang menenangkan diri di masjid pd malam hari, sesosok berjubah putih seperti menyeretnya ke tempat terang benderang. "Mungkin itu petunjuk, saya harus bertobat, meninggalkan dunia hitam," katanya.
Pelan-pelan hidupnya berubah. Endri kini menggeluti pekerjaan di sebuah rumah produksi di Bogor. Ia juga hijrah lagi ke Kota itu."Saya janji utk terus memperbaiki diri," katanya dgn semangat.
Setelah bercerita, ia kembali duduk diam di masjid. Malam semakin larut dan saat itu telah memasuki hari Jumat sekitar pukul 01.00. Pada dini hari yg sama di Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, joko Pujiono (53) juga tengah beriktikaf. Lelaki asal Plumpang Jakarta Utara, itu bersila sembari menundukkan kepala hingga lebih dari satu jam. ia juga memanfaatkan momen itu utk berintrospeksi diri. "Dulu saya nakal, sering melaan orangtua. Tapi, sekarang saya ingin banyak berdoa dgn berdiam di Masjid supaya hidup saya lebih baik," katanya.
Joko pun banyak beribadah dan selalu beriktikaf di masjid Luar Batang selama dua tahun terakhir. Bersama para anggota jemaah lain, ia juga berziarah ke makam pendiri masjid Husein bin Abubakar Alaydrus, di area masjid. Ritual serupa ditekuni lebih dari 100 umat Muslim yg malam itu beriktikaf di sana.

Oase
Itikaf telah mentradisi sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Berdiam diri di masjid sambil beribadah itu bisa ditekuni pd 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah ini diyakini dpt mendekatkan manusia kpdAllah, bahkan memperoleh berkah malam Lailatul Qadar- malam yg lebih baik dari 1000 bulan. Malam ini ditunggu kaum muslim di seluruh dunia, termasuk di Jakarta. Maka, pd malam-malam akhir puasa, sejumlah Masjid disesaki Jemaah, seperti Masjid Sunda Kelapa, Masjid Luar Batang, atau Masjid Istiqlal. Lazimnya, mereka beriktikaf selepas tarawih sekitar pukul 22.00 hingga waktu sahur sekitar 03.00.
Apa relevansi itikaf bagi kaum muslim di Jakarta?
Kehidupan kota Metropolitan yg penuh rutinitas, membuat penat, cenderung terburu-buru, dan membelit orang dalam buaian material, semuanya itu membuat manusia tertekan bahkan mungkin stress. Sebagai gambaran, tahun 2007, warga Jakarta yg stress dan dirawat di puskesmas mencapai 1,4 juta jiwa. Satu dari empat pasien puskesmas di Jakarta juga menderita stres. (Kompas, 1 Desembar 2007)

Agaknya, iktikaf dpt menjadi sarana bagi warga Jakarta utk mundur sejenak dari keruwetan kehidupan kota. "Memburu kepuasan duniawi hanya membuat orang semakin haus dan haus. Orang-orang makin kosong jiwanya karena terus menerus mengejar materi. Dengan iktikaf, saya merasakan kedamaian dan kepuasan yg sesungguhnya," kata Ny Toha (70), warga kota Depok, Jawa Barat.

Sabtu dini hari lalu, perempuan yg masih tampak segar di usia lanjut itu berbaur di tengah ratusan remaja putri dan ibu-ibu yg beribadah di masjid Istiqlal. Ia mencari pencerahan di sana sejak menjelang berbuka puasa sekitar pukul 17.00 hingga waktu sahur sekitar pukul 03.00.

Tak hanya merenung, dia juga membaca Alquran dan shalat tahajud. Ny toha menikmati ritual ini sejak bertahun-tahun lalu. Saat mendengarkan imam berdoa, saya merasa seperti melayang, seperti tidak berbobot. begitu kecil dan tdk berarti," ucapnya.[-O-]

Selasa, 08 Februari 2011

Bertumpuk di Bedeng Sempit Demi Rupiah

Taslim (24) biasa berdagangmakanan di kawasan Senayan, Jakarta. Sebuah kawasan yg menjadi salah satu pusat perekonomian yg ramai. Namun, seperti sebagian besar pedagang perantau, ia tinggal di bedeng sempit. Malah tak jarang Taslim harus berbagi ruang dgn perantau lain. Mereka rela berdesakan dalam ruang sempit tsb demi bisa berhemat agar uang sisa itu bisa dikirimkan ke keluarga mereka di kampung.
Laki-laki asal Brebes, Jawa Tengah yg berjualan nasi goreng itu mengontrak salah satu Bedeng di Grogol Selatan, kecamatan Kebayoran Lama, Jaksel. Bedeng itu hanya berukuran 2 meter x 2 meter dgn dinding tripleks dan seng. Untuk membayar uang sewa per bulan, ia harus merogoh kocek Rp.300.000.
Baru sebulan terakhir ini Taslim benar-benar "menikmati" privasi di bedeng sederhana itu bersama istrinya, Surki (21), sesama perantau Brebes yg dinikahinya delapan bulan yg lalu. Ia baru menyewa sendiri bedeng di perkampungan sempit itu setelah istrinya berhenti bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kebon Jeruk, Jakbar.
Sebelum itu, Taslim bersama empat perantau asal Brebes, yg juga berjualan nasi goreng, menempati satu bedeng berlantai tanah. Selain harus berbagi dgn temannya, di bedeng itu ia juga harus berbagi dgn perabot memasak serta beberapa pakaian yg tergantung. Banyak nyamuk, juga kecoak, tetapi bisa lebih irit," kata Taslim yg diiyakan istrinya, Surki, Jumat (4/2) petang.
Kondisi bedeng yg memprihatinkan itu tak terlalu dipusingkan oleh Taslim dan empat orang temannya, Tandis (23), Yakub (25), Warno (45), serta Suhari (20). Menurut Taslim, hanya 1-2 orang saja yg tidur di dalam bedeng dgn membentangkan tikar, sementara lainnya biasanya memilih tidur di dipan papan yg berada di luar bedeng.

Dimodifikasi
Kondisi lebih sederhana dialami oleh 25 pedagang tahu gejrot yg menyewa bedeng berukuran 3,5 meter x 8 meter, juga di Grogol Selatan. Mereka memodifikasi bedeng tsb dgnmembuatnya jadi "bertingkat". Lantai bawah berketinggian 165 cm dgn alas karpet tipis, sementara bagian atas dibuat dari rangka bambu dilapisi tripleks. Setelah itu baru dialasi dgn karpet kain.
Di rumah sewaan sangat sederhana itulah para perantau dari Cirebon, Jawa Barat itu, tinggal sehari-hari. Mereka tdk memedulikan masalah kenyamanan karena di rumah itu mereka sekedar merebahkan badan dan menutup mata sejenak.
Sumiah (41), penjaga bedeng itu menuturkan, mereka mulai berjualan selepas tengah hari. Pukul 22.00-23.00 barulah satu per satu pedagang itu pulang. Pagi-pagi mereka sdh harus menyiapkan dagangannya.
Sementara Taslim dan teman-temannya mulai mendorong gerobak nasi goreng menuju kawasan Senayan pukul 18.00. Setelah menjelang subuh baru mereka pulang utk rehat. Tengah hari mereka kembali harus memasak nasi dan menyiapkan bumbu nasi goreng.
Hasil yg didapat para perantau makanan keliling dari kerja banting tulang tidak menentu. Jika sedang bagus dan dagangan habis, bisa memperoleh omzet Rp.300.000 dgn keuntungan separuhnya.
Namun, kadangkala malah harus tombok karena dagangan tidak habis. "Kemarin cuma laku Rp.30.000. Padahal, harga-harga barang sekarang naik semua," tutur Surki.
Harga beras naik dari Rp.7.000 menjadi Rp.8.000 per kg. Harga cabai seperempat kr Rp.25.000, naik dari sebelumnya Rp.10.000. Namun, dia belumberani menaikkan harga nasi goreng Rp.8000 per porsi.
"Terpaksa dua bulan ini tdk bisa kirim uang ke kampung," tutur Surki. Sebelumnya dua bulan sekali suaminya bisa mengirim Rp.500.000. Tampaknya bayangan mudahnya mencari uang di ibukota, tak dirasakan mereka.[-O-].

Minggu, 09 Januari 2011

Mereka Berharap Mendapat Kehidupan Yg Lebih Baik

HUJAN yg masih kerap turun di Jakarta saat ini bagai musuh bagi pedagang buah dingin dan rujak keliling. Betapa tidak, jika hujan turun, apalagi dalam waktu cukup lama, sebagian besar aneka buah dingin dagangan tak akan laku terjual, lalu harus dibuang percuma. Hawa dingin akan membuat konsumen malas membeli buah atau rujak racikan si pedagang buah keliling. "Sekarang usaha jualan buah dingin dan rujak makin susah," keluh Tarsan (36), pejuala buah dingin kawakan asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Ia ditemui Selasa (21/4) pagi sat sedang memotong buah nanas di depan rumahnya.
Tarsan, yg sejak kecil berjualan buah dingin (mencoba menjual es cendol), merasakan manis-pahitnya menjadi penjual buah potong keliling. Selama sekitar 20 tahun menjual buah, kehidupan Tarsan bukan makin membaik, tetapi malah nyaris bangkrut. Awal tahun 2000, ia mempunyai delapan anak buah, kini hanya punya tiga anak buah. Maksudnya, Tarsan sempat menjadi bos, tetapi bukan berarti dia bisa duduk santai. Ia tetap bekerja keras ikut memotong buah, sekaligus mengontrol anak buahnya memotong aneka buah lalu ikut pula berdagang. Toh hasil usahanya selama dua dekade bisa disebut tak sepadan dgn kerja kerasnya. "Saya hanya punya sapi di kampung, tetapi Alhamdulillah, anak-istri kumpul di sini," tutur Tarsan.
Bagi pedagang buah dingin, berkumpul dgn anak istri merupakan kemewahan sebab biasanya utk mengirit biaya hidup, anak-anak dititipkan ke neneknya di kampung. Mereka tumbuh besar dan bersekolah di kampung.
Ini pula yg dilakukan keluarga Ujud (40), asal Desa Kebon, Kecamatan Sakaran, Kabupaten lamongan. Pasangan Ujud-Wiwik sdh sekitar 15 tahun berjualan buah dingin di Jakarta. Mereka mempunyai dua anak, Kiki (16) dan Bowo (14). Semula, kedua anak tsb ikut neneknya di kampung, bersekolah dari SD sampai SMP. Begitu lulus dari SMP, Kiki menyusul ayah dan ibunya ke Jakarta, Bowo masih bersekolah di sana. Namun, tak sampai setahun, bocah lelaki itu minta berhenti sekolah lalu ikut ke Jakarta.
"Bowo kasihan sama bapaknya, ia tak mau lagi bersekolah," tutur Wiwik yg ditemui di rumah kontrakannya yg sangat sederhana di sisi "TPU" Joglo, Jakbar (20/4). Kehidupan anak-beranak ini lebih memprihatinkan lagi. Mereka sama sekali tak punya radio, televisi, apa lagi kulkas. Rumah kontrakan yg sewanya Rp.170.000 per bulan hanya diisi kasur ukuran sedang, lemari makan, seperangkat kompor gas hasil pembagian pemerintah, dan sebuah meja panjang.
Rumah petak yg terbagi menjadi dua bagian berfungsi utk dapur dan kamar tidur Ujud-Wiwik. Ruang bagian depan seluas 1,5 x2,5 meter menjadi tempat tidur anak-anak dan adik Wiwik. Di situ pula Ujud dan Wiwik mengiris buah untuk jualan esok harinya. "Kadang-kadang bingung dimana nyimpan buah yg sdh dibungkus karena tempatnya habis,"tutur Wiwik sambil tersenyum.
Situasi yg hampir sama tampak di kontrakan Suwoto-Ida, asal Tuban, di samping SPBU Joglo. Suwoto, yg menjadi penjual buah selama 15 tahun dan pernah menjadi anak buah Tarsan, mengaku hanya mempunyai simpanan sebidang tanah di kampung. "Jarang bisa nyimpan uang, sehari-hari penghasilan rata-rata Rp.50.000 habis utk makan dan ngontrak rumah. Mungkin inilah berkah utk saya," tutur Suwoto.
Untung Tipis
Menjadi pedagang buah dingin dan rujak menjadi pilihan banyak perantau asal Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan, semua di Jawa Timur. Awalnya, kata beberapa pedagang buah dingin dimulai oleh Sutopo asal Lamongan pada tahun 1980-an. Usaha Sutopo maju pesat. Ia memiliki banyak anak bauah, salah satunya adalah Tarsan. "Pak Topo sekarang sdh pulang kampung. Ia sukses berjualan buah dingin. Bisa naik haji dan punya sawah dari hasil usahanya," ujar Tarsan.
Jumlah penjual buah dingin lalu bertambah karena ada yg mengajak saudara dan kawan sekampung. Wilayah kabupaten Lamongan Tuban-Bojonegoro merupakan wilayah yg berdekatan di Utara pantai Jawa. Semula, seperti diakui Tarsan, bisnis buah dingin cukup menjanjikan karena harga buah seperti, pepaya, jambu, nanas, bengkuang, dan mangga, cukup murah. Potongan buah yg dibungkus plastik secara rapi itu dijual dgn harga Rp.200- Rp.1000.
Sejak tahun 2006, bisnis ini kurang menguntungkan. Harga buah naik terus, sementara pedagang tidak bisa menaikkan harga buah dingin sebab daya beli masyarakat merosot.
"Kami hanya bisa untung Rp.300-Rp.1000 per buah ," kata Suwoto. Keadaan itu masih diperburuk isu pedagang buah memakai pengawet utk membuat buah tetap segar. Mereka sangat terpukul oleh isu tsb, padahal keuntungan tipis itu tak banyak berarti karena belum karena mereka belum menghitung tenaga, plastik dan gula aren. Para pedagang hanya bisa berharap kehidupannya akan membaik.[-O-]

Kamis, 23 Desember 2010

Ketika Timnas Mengganggu Jablai

TIYA (35) hanya duduk diam di bangku kayu setinggi lutut orang dewasa. Perempuan berambut panjang berkulit putih ini berkali-kali menengok kanan-kiri. Di tengah lorong-lorong Lokalisasi Pasar Kembang (Sarkem), Yogyakarta, yang sepi dan remang itu, Tiya menunggu datangnya pelanggan pertama untuk malam ini, Kamis (16/12/2010).
Perempuan asal Pekalongan ini beberapa kali memperbaiki rok tingginya yang memperlihatkan paha putih mulusnya. Sesekali ia juga memperbaiki duduknya yang mulai membungkuk. Ia menegakkan badan, membusungkan dadanya. Padahal malam itu ia hanya mengenakan gaun hitam backless dengan belahan dada sangat rendah.
"Huff, bola bikin malam ini sepi," keluh Tiya. Kamis (16/12/2010) sampai 20.00 WIB ia mengaku belum ngamar sama sekali. "Mau gimana lagi, cowok-cowok lebih senang nonton bola daripada 'main bola'," selorohnya sambil tersenyum nakal.
Hal yang sama juga dirasakan Farida (28), seorang pekerja seks asal Semarang. Malam ini, ia mangkal di tempat yang lebih menjorok ke dalam daripada Tiya. Rupanya di sana tempat mangkal perempuan yang lebih muda dan seksi.
Perempuan yang dulunya mangkal di Solo ini juga mengeluhkan hal yang sama. "Merapi bikin sini sepi. Sekarang tambah bola lagi!" keluhnya. Ia mengaku biasanya sudah bisa mendapatkan dua pelanggan sampai pukul 20.00 WIB, namun kali ini belum sama sekali.
Farida pun berusaha keras segera dapat tamu. Ia cukup agresif menggoda pria yang lewat. Ketika ada pria berpakaian rapi lewat, Farida menarik tangan pria itu, menempelkannya ke dadanya sambil membisikkan sesuatu. Namun, pria tersebut memilih pergi.
Ternyata pria dengan jaket hitam rapi itu menuju ke pos ronda yang terletak tidak jauh dari tempat farida mangkal. Di sana ia menonton sepak bola bersama warga lain.
"Huh, Irfan bikin sepi aja!"katanya menyebut seorang pemain timnas naturalisasi yang sedang tenar karena ketampanannya.
Berbeda halnya dengan Elissa (28), pekerja seks asal Kudus. Ia terlihat bersemangat menonton pertandingan lewat televisi di warung milik warga.
"Saya dari dulu memang suka nonton bola. Apalagi main bolanya cowok," candanya sambil membetulkan tali bra hitamnya.
Elissa yang malam itu mengenakan tank-top abu-abu mengaku juga belum mendapatkan pelanggan sama sekali. "Nanti setelah bola selesai juga pasti dapat," ujarnya optimis.
Elissa tiba-tiba berteriak keras saat Irfan Bachdim nyaris mencetak gol di menit-menit akhir babak pertama. Ia terlihat gemas melihat siaran ulang adegan tersebut. "Sepakbola asik sih. Tapi saya tetap lebih suka main bola sama cowok," katanya sambil tersenyum.[-O-]

Senin, 01 November 2010

Mengusir Sumpek, Takut dan Trauma

Derai tawa Rizki (8) seperti sulit ditahan. Berkali-kali dia memegang dan memukul-mukul tangan relawan bencana Gunung Merapi utk menahan tawa gelinya. Saat itu relawan dari tim kerja MGR memang sdng berusaha menghibur anak-anak korban letusan Gunung Merapi.
Tawa Riski pecah hanya karena hal sepele, seperti tak mampu menjawab nama binatang yg yg diawali dgn huruf L pada permainan "ABC Lima Dasar" bersama kawan-kawan sedusunnya. Kegiatan ringan ringan tapi cukup menghibur itu dilangsungkan di barak pengungsian di SD Kiaran I, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (31/10)
Tawa yg lepas itu ternyata mampu membuat Riski melupakan sejenak jenuh dan sumpeknya selama berada di pengungsian bersama orang tua dan kawan-kawannya. Riski berasal dari dusun Kinahrejo, Cangkringan, yg luluh lantak diterjang awan panas Merapi pd 26 Oktober lalu.
Di balik masalah di atas, Rizki juga menyimpan kenangan buruk. Kenangan saat bersama ayah dan ibu serta adiknya yg harus lari dari kejaran awan panas. ”Saat itu sudah mau maghrib dan terdengar suara serene peringatan erupsi gunung berapi, ”tuturnya.
Saat itu, lanjut Rizki, bibinya meminta agar semuanya tenang dan tdk panik. ”Tapi, karena bunyi sirene diikuti padamnya linstrik, kedua orang tua saya langsung menarik saya berlari keluar dari dusun,” ujar bocah yg sedusun dgn juru kunci Merapi, Mbah Maridjan.

”Ada suara gemuruh juga. Suaranya kencang sekali. Saya takut sekali, tetapi ayah dan ibu menyuruh saya lari sekencang-kencangnya,” cerita Rizki dgn mimik ketakutan.

Teman bermainnya, Puteri Lestari (8) masih beruntung karena dpt melarikan diri dari kejaran awan panas, yg di daerah itu lebih dikenal dgn wedus gembel, bersama kedua orang tuanya dgn sepeda motor. Dia mengaku sat itu tdk terlalu merasa takut karena ibunya memintanya agar tenang. ”Sebenarnya saya takut sekali,” ujarnya.

Sri Rahayu (35), ibu Putri mengatakan, saat itu memang semuanya panik, tetapi dia tetap meminta anaknya tdk ikut panik. ”Kasihan kalau dia ikutan panik, nanti malah ketakutan terus. Padahal, kami kan tinggal digunung,” katanya.


Tidak Betah
Hampir setiap anak dusun Kinahrejo yg mengungsi itu mengaku tidak betah berada di pengungsian. Mereka ingin bersekolah kembali agar dapat bermain bersama teman-temannya. Sidik (7) yg kelihatan ceria karena kerap berlari dan melompat di sekitar teman-temannya pun mengaku ingin segera kembali ke sekolah. "Enggak betah di sini. Enggak enak," katanya.
Keinginan Sidik dan anak pengungsi lainnya itu tentunya tak mungkin diwujudkan segera sebab sekolah mereka, SD Negri Pangukrejo, yg berada tak jauh dari dusun Kinahrejo sdh tak beraktivitas sejak Merapi erupsi. Menurut sejumlah pengungsi, sekolah itu saat ini pun tutup karena rawan luncuran awan panas
Sejak mengungsi, demikian Ketua RT 04 RW 02 Dusun Kinahrejo Budiman, belum ada upaya satu pemerintahpun untuk memulihkan trauma anak-anak akan erupsi Gunung Merapi. Bahkan televisipun tdk disediakan di tempat pengungsian. Para pengungsi harus menghibur diri sendiri, termasuk menghibur anak-anak mereka.
Terlebih,lanjutnya, hampir semua pengungsi dari dusun Kinahrejo, yg bermata pencarian sebagai peternak sapi perah, sdh tak memiliki ternak lg karena mati terkena awan panas. "Nyaris, kami ini sama sekali tak memiliki kegiatan karena ternak kami pun sdh mati semua," kata Budiman.

Pemulihan Trauma
Suluh Pamuji (23), koordinator relawan utk pemulihan trauma anak korban bencana erupsi Gunung Merapi dari Tim Kerja Marto Golek (TKMG), mengatakan, seharusnya pemerintah dapat mengutamakan terapi pemulihan trauma anak-anak korban bencana erupsi Merapi dari Dusun Kinahrejo sebab mereka mengalami langsung luncuran awan panas yg menerjang dusun tempat tinggal mereka.
"Kehadiran kelompok kami di tengah anak-anak pengungsi Dusun Kinahrejo ini sebenarnya utk observasi. Tdk semua anggota tim bisa segera datang karena harus kuliah," kata Pramuji seraya menjelaskan, anggota TKMG terdiri atas mahasiswa filsafat UGM dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Ia berharap ada tim yg dapat memberikan pelajaran bagi anak-anak pengungsi Merapi. "Biar mereka tak jenuh sehingga merekapun tdk bertindak aneh-aneh akibat kejenuhannya selama di pengungsian," kata Pamuji lagi.[-O-]

Rabu, 27 Oktober 2010

Betawi Dan Sisa Kerbaunya

Sama seperti hari-hari biasanya, Jumat (28/9) lalu pukul 16.00, suasana di sekitar Plaza Cengkareng, Jakarta Barat, hiruk-pikuk. Lalu lintas padat merayap. Matahari terik. Di depan Plaza, dua jalur jalan, masing-masing di sisi kantor Kecamatan dan Kantor Kepolisian sektor Metro Cengkareng, masih terbelah gundukan tanah bakal Jalan Tol Lingkar Luar Jawa.
Beberapa bagian dataran rendah ditumbuhi rumput dan perdu putri malu. Sebagian lagi berupa tanah telanjang berbatuan. Di tempat itu ada delapan kerbau, dua diantaranya kerbau bule. Lilik (47) sang Pengembala, bersama dua rekannya duduk di rerumputan.
Empat puluh tahun lalu, di tempat yg sama, ia setiap hari mengembalakan kerbau-kerbaunya. Namun, sejak tahun 1990, ia mengembalakan kerbau hanya pada pertengahan bulan Ramadhan. Mengapa?
"Dulu, sejauh mata memandang, yg ada cuma sawah. Engkong (kakek) saya, almarhum Rein, punya berhektar-hektar sawah. Setiap hari saya menggembalakan kerbau kemana saya suka dari pukul 07.00 sampai 12.00. Lalu menggembalakan lagi pukul 14.00-17.00. Sekarang saya hanya menggembalakan kerbau di sini dan hanya pada pertengahan bulan Ramadhan. Saya sekarang bukan lagi penggembala, tapi cuma pedagang kerbau," ungkapnya. Ia lalu tertawa terbahak-bahak. Anting di telinga kirinya bergerak-gerak mengikuti tawanya. Di lehernya tersampir sarung.
Lilik lalu menjelaskan, di antara cucu-cucu Rain, ia dinilai paling rajin menggembalakan kerbau sehingga diberi tugas memelihara kerbau kakeknya itu hingga beranak pinak. "Karena kegemaran saya menggembala kerbau, saya putus sekolah kelas V SD. Saya enggak tahu kalau suatu saat sawah dan kandang-kandang kerbau di sini hilang. Akhirnya saya cuma dagang kerbau kecil-kecilan seperti ini," ujar Lilik, seperti menyesali nasibnya.

Semur Betawi
Bersama seorang kakaknya, ia mulai berdagang kerbau sejak tahun 1989. Awalnya ia cuma mampu membeli dua kerbau, sampai akhirnya ia mampu menjual 10-12 ekor kerbau setiap menjelang lebaran.
Lilik mengemukakan, di kalangan orang Betawi, menu semur Betawi menjadi istimewa kalau dagingnya daging kerbau, bukan daging sapi. Semur istimewa ini umumnya disajikan hanya pd acara hajatan, seperti khitanan, pernikahan, lebaran haji, terutama idul fitri.
"Daging kerbau lebih banyak seratnya, sedikit minyaknya, dan tahan lama. Semur dgn daging kerbau bisa tahan sampai dua minggu. Setiap dihangatkan, bumbu semur semakin merasuk ke daging kerbau. Kalau daging sapi dihangatkan bolak-balik, hancur," ucap Lilik. Akan tetapi, lanjutnya, ada jeleknya juga tuh. Orang rumah yg makan semur kerbau jadi bosan karena gak habis-habis, ha-ha-ha..."
Menurut dia, harga seekor kerbau sat ini Rp. 6 juta, sedangkan seekor sapi Rp. 5 juta. Pada hari biasa, daging kerbau eceran tak tersedia di pasar. Masyarakat Betawi yg punya hajat dan menginginkan menu makan daging kerbau umumnya membeli sekurang-kurangnya seekor kerbau.
Dua hari sebelum lebaran, Lilik dibantu sejumlah pejagal biasanya memotong kerbau. "Memotongnya pukul 02.00. Pukul 05.00 pembeli sdh pd dateng meskipun daging belum dirapikan. Mereka saling berebut memilih daging yg dianggap bagus," ucapnya.
Lilik bak kisah klasik warga Betawi yg terlempar dari deru pembangunan Ibukota. Pertumbuhan gedung di sekitar rumahnya, di belakang Plaza Cengkareng, membuat ia dan keluarganya justru semakin miskin, terasing. Bersama kerbau yg dijualnya, Lilik cuma menjadi penonton keriuhan pusat perbelanjaan yg terus menggoda pengunjung utk membeli apa saja.

Minggu, 24 Oktober 2010

Derita Berlapis Penjual Kue

Kasminah, 47 tahun, berdiri terpaku menyaksikan para petugas Ketentraman dan Ketertiban membongkar kios-kiosnya di pasar Kosambi, Jakarta Barat. Di kios itulah ia sehari-hari berjualan kue lapis.
Dari hasil berjualan yg sdh dilakoninya selama bertahun-tahun itu ia bisa mengasapi dapur dan menghidupi tujuh orang anaknya. "Saya nggak tahu apakah anak saya bisa makan apa nggak," katanya penuh haru, Rabu lalu.
Kepada ZP yg mengunjungi gubuk kecilnya yg terletak tak jauh dari pasar itu, Kasminah dan suaminya, Suyono, 62 tahun menuturkan kisahnya. Setiap hari, kata Suyono, keduanya harus berjuang keras di pasar Kosambi itu. Selain membantu istrinya berjualan, kadang ia harus nyambi sebagai kuli bangunan.
Beban hidupnya kian terasa berat ketika ia harus menerima kenyataan, empat dari tujuh anaknya menderita sakit parah. Penghasilan istrinya dari berjualan keu lapis rata-rata hanya Rp.20 ribu. Uang itu harus ia gunakan utk menghidupi keluarganya dan menyembuhkan sakit anaknya. Meski upayanya belum juga berhasil, tekad utk menyembuhkan buah hatinya tetap saja membara.
Wiwin Priono, 15 tahun, anak kelimanya, telah kembali ke pangkuan-Nya pd 12 Februari lalu karena penyakit leukemia yg dideritanya selama lima tahun. Di sudut kamar berukuran 3x3 meter yg disewanya Rp. 150 ribu per bulan itu tergeletak anaknya, Siswardoyo, 24 tahun, yg mengalami kelumpuhan sejak setahun lalu. "Kata dokter, Sis bisa sembuh jika dioperasi. Tapi biayanya Rp. 18 juta," ujar Suyono.
Derita yg dialami keluarga ini memang datang bertubi-tubi. Awal penderitaan mulai dirasakan sejak tahun 2000. Ketika masih di Cilegon, putri keempatnya, Kusmiatun, 19 tahun, tertabrak kontainer. Akibatnya, putrinya ini terancam buta karena geger otak yg dideritanya tak tertangani secara baik.
Kini keluarga ini hanya bisa berharap budi baik dari siapa pun agar ia bisa mendapat peluang berjualan kue lapis kembali. Entah di mana, mungkin di pasar Kosambi baru.[-O-]

Kamis, 21 Oktober 2010

Melongok Dari Kios Bu Wati

Wati melongok dari jendela kiosnya. Sekitar 25 meter di depannya, puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berunjuk rasa di tengah Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (20/10).
Sambil sesekali meladeni pembeli yg datang ke kios makanan-minumannya, perempuan yg sejak tahun 1965 berdagang di Jalan Mendut, Menteng, itu melemparkan pandangannya ke arah demonstran. Ia terperanjat ketika dorong-mendorong terjadi antara petugas dan mahasiswa, disusul dgn tembakan polisi dan hujan batu dari arah mahasiswa.
"Aduh, kenapa itu? Kenapa harus pakai berantem?" seru Wati panik.
Walau di kawasan itu sering terjadi demonstrasi, Wati sama sekali tak pernah mengerti apa isi tuntutan yg disampaikan anak-anak muda berjas almamater itu. Boro-boro paham urusan demo begitu, Wati bahkan tidak ambil pusing mengenai berapa usianya kini. "Kira-kira zaman Jepang masuk Indonesia, saya sdh ada," ucapnya singkat.
Perempuan yg tdk bisa baca tulis itu tdk bisa membaca spanduk-spanduk bawaan demonstran. Ia juga tdk begitu mengenal urusan politik. Satu-satunya pengetahuan politik diperoleh Wati dari mendengarkan obrolan wartawan, polisi, atau warga yg mampir dan duduk-duduk di muka kiosnya.
Di luar itu, ibu satu anak ini lebih akrab dgn harga-harga barang yg terus naik dan cara berdagang kecil-kecilan utk menyambung hidup dari waktu ke waktu. "Sekarang, paling-paling saya bisa dapat uang Rp.200.000 sehari. Itu kotor lho. Uang itu saya pakai utk belanja barang-barang yg bisa saya jual lagi. Sisa uang dipakai utk makan saya, suami, dan anak,"tutur perempuan asal Cirebon itu.
Kehidupannya kini kian minim. Jika gaji pegawai bisa naik atau anggaran kunjungan kerja anggota legislatif selalu naik dari tahun ke tahun, nilai uang perolehan Wati kini kian susut tergerus inflasi. Barang dagangannya, seperti kopi-teh, mi-instan, dan rokok, juga menjadi barang dagangan yg jamak dijual para pedagang keliling naik sepeda. Belum lagi kios dan warung yg kian menjamur, lengkaplah persaingan ketat yg dihadapi Wati dalam merebut pasar.
Pemimpin negara yg berganti kiranya tdk membawa perubahan signifikan bagi Wati. Satu-satnya perubahan yg dirasakannya adalah Jalan Diponegoro yg dulu banjir sekarang tidak lagi. Selebihnya, kondisi tetap begini-begini saja.
Hal serupa dirasakan Pon (38). Pedagang rujak keliling itu memilih hijrah ke Jakarta utk mengadu nasib ketimbang tetap tinggal di kampungnya, Piyungan, Jogjakarta."Di sana susah cari kerja. Mau bertani tdk punya sawah. Jadi, tiga tahun lalu saya mengadu nasib ke Jakarta saja," ujar pria lajang itu.
Di Jakarta, Pon mula-mula membantu kakaknya berdagang rujak. Usaha itu semakin surut lantaran perdagangan di suatu pertokoan di Manggarai juga sepi. Sejak itulah Pon mulai mendorong gerobak rujak.
Unjuk rasa seperti yg terjadi di Jakarta kemarin memberikan keuntungan bagi Pon kendati hanya sedikit. Beberap polisi, pengunjuk rasa, dan wartawan mampir ke gerobaknya. Umumnya mereka membeli potongan buah segar seharga Rp. 2.000 per potong. Rezeki itu memberi peruntungan bagi Pon. Apalagi hujan yg turun menyebabkan dagangan buah sering tidak laku. Padahal, dia dan kakaknya harus patungan membayar sewa kamar seluas 3 meter x 2,5 meter seharga 6 juta per tahun. Belum lagi biaya listrik, air dan makan sehari-hari.
Kendati membawa rezeki, Pon mengaku belum merasakan berubahan berarti selama tiga tahun berdagang. "Sebenarnya, ingin juga sih mencari pekerjaan lain. Namun, apa yg bisa saya kerjakan? Mencari pekerjaan sangat sulit, apalg saya hanya lulus SMP," ucapnya. Namun, tdk semua orang mendapat tetesan rezeki kala unjuk rasa seperti Pon.
M Jali (30), pedagang pakaian di Blok M, mengaku kerap repot jika terjadi kerusuhan saat unjuk rasa. "Toko harus tutuplah, mengamankan barang daganganlah, terus pasti orang di rumah khawatir. Sudahlah, kalau perlu, jangan terlalu sering ada demonlah," kata Jali.
Unjuk rasa dan banyaknya jalan ditutup menyebabkan para pengguna jalan geleng-geleng kepala. "Macet lama di dekat Bank Indonesia. Banyak orang demo, "kata Libra (28) yg baru saja turun dari bus Transjakarta di Halte Blok M. Libra meminta para pengunjuk rasa lebih baik menyalurkan aspirasinya terarah di lokasi tertentu saja tanpa perlu menghalangi orang lain yg harus tetap bekerja.
Kebingungan akan lalu lintas yg ditutup saat unjuk rasa juga menimpa Cathrina (46). Semula ia tdk menyangka perjalanan dari Blok M ke Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata di Jalan Medan Merdeka Barat bakal ribet. Baru di Halte Transjakarta Blok M ia dikabari bahwa sejumlah ruas jalan ditutup shg perjalanan bus transjakarta juga berubah jalur.
Terbayanglah ia harus berjalan kaki cukup panjang setelah halte terakhir sebelum bus berputar arah Ditambah melewati kerumunan pengunjuk rasa. Bagi karyawan-karyawan yg ter biasa hidup dgn rutinitas tanpa gejolak ini, hambatan pada Rabu itu sangat mengganggunya.
Unjuk rasa bukan sesuatu yg terlarang karena disitulah salah satu wujud penyampaian aspirasi masyarakat. Namun, barangkali perlu juga dipikirkan alternatif lain untuk berpendapat sekaligus membawa perubahan signifikan bagi banyak orang.[-O-]

Ketika Harga Komoditas Membumbung

Ada rasa masygul ketika membaca berita tentang membumbungnya harga berbagai komoditas. Harga tembaga naik tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir. Seng lipat dua, dan terigu serta kedelai meningkat 70 persen di tahun 2007. Sementara harga-harga mendatang utk minyak mentah, emas, perak, timah, uranium, kokoa,dan jagung sdh mencapai-atau hampir mencapai- rekor (tertinggi).
Sebelum ini, komoditas selalu mengikuti siklus menggelembung (boom) dan kempis (bust), tetapi banyak ekonom kini melihat adanya pergeseran fundamental di pasar.
Seperti diulas Clifford Krauss yg dikutip di atas, perubahan muncul dari dinamika di negara-negara yg pd masa lalu terbelakang. Di negara-negara tsb, salah satunya Cina, berlangsung pembangunan yg memperbaiki taraf hidup miliaran orang. Kebutuhan akan makanan, logam, dan bahan bakar melonjak hebat. Pemasokpun harus berjuang keras utk memenuhinya. Tak terelakkan, harga-hargapun membumbung. Strategi komoditas di BMO Capital Markets Bart Melek menegaskan telah terjadi perubahan fundamental dalam struktru ekonomi global.

Kalau AS resesi
Masih akan dilihat, apakah tren di atas masih akan berkelanjutan manakala AS dilanda resesi. Namun, sejumlah pengamat ekonomi berpendapat bahwa permintaan luar negri akan bisa mempertahankan harga-harga komoditas sekalipun AS dilanda resesi.
Alasan bagi pandangan ekonom di atas adalah berbeda dgn waktu-waktu lalu, harga komoditas sekarang ini lebih terkait dgn faktor di luar AS, seperti industrialisasi di China, juga di India, lalu juga negara-negara minyak yg tambah makmur, seperti Arab Saudi dan Rusia.
Bisa dikatakan, dewasa ini dunia semakin sulit memenuhi permintaan yg terus meningkat. Minyak bisa dikatakan makin sulit diperoleh, sementara biaya utk memproduksinya terus meningkat. Sementara utk biji-bijian, kekeringan dan hujan berlebihan akibat cuaca ekstrin-yg boleh jadi terkait dgn pemanasan global dan penggunaan bahan bakar fosil secara eksesif- membuat produksi biji-bijian berkurang.
Satu faktor tunggal yg disebut Krauss sbg pengerek harga komoditas adalah gegap gempitanya pembangunan di China. Raksasa Asia itu kini punya 7.000 pabrik baja, dua kali dari jumlah tahun 2002. Setiap pabrik baru perlu listrik, yg harus disediakan oleh pembangkit listrik, yg harus didukung oleh kereta api diesel yg mengangkut batu-bara. Lalu utk mengangkut baja yg diproduksi dibutuhkan tambahan truk dan perluasan pelabuhan.
Tampak memang bahwa revolusi industri di China- dgn hasil berupa pertumbuhan ekonomi sebesar 10 persen tahun lalu-telah tampil sebagai faktor tunggal yg meningkatkan kebutuhan global akan minyak dan komoditas lain.

Merespons Perubahan
Dengan proyeksi kebutuhan komoditas yg terus meningkat, yg lalu membuat harga-harganya semakin tinggi, negar-negara jelas harus mengambil langkah utk merespons segera perubahan yg terjadi.
Misalnya saja, meningkatnya harga minyak telah membuat upaya menemukan energi alternatif- seperti biofuel- ditingkatkan. Boom etanol di kawasan Midwest di AS telah membuat harga jagung melonjak. Sayangnya, karena jagung merupakan bahan makanan vital bagi hewan ternak, kenaikannya segera diikuti kenaikan harga susu dan daging. Harga biji-bijian pun ikut naik karena lahan yg semula utk menanam berbagai bijian tadi digunakan utk menanam jagung.
Dari satu sisi, alternatif energi bisa saja mudah ditemukan. Namun, kuatnya tali-temali urusan membuat solusi tidak serta merta mudah ditemukan.
Selain kendala modal, SDM, dan teknologi, pengembangan sektor pertambangan di era pelestarian lingkungan hidup juga sering terkendala karena sumber pertambangan tdk jarang berada di kawasan hutan lindung (Situs Bappenas 2003).

Dari Hulunya.
Merespons naiknya harga komoditas bisa dilakukan dgn langkah tanggap darurat, seperti halnya utk mengatasi melambungnya harga kedelai, juga minyak goreng dan terigu.
Akan tetapi, berikutnya, respons juga harus ditarik ke arah konsep, karena catatan yg yg sejauh ini dipahami seperti halnya dalam soal kedelai adalah bahwa selain adanya faktor eksternal, krisis juga buah dari akumulasi tiadanya keseriusan pemerintah dalam membangun ketahanan pangan.
Riset diberbagai lembaga penelitian dan pendidikan seperti LIPI dan IPB disebut telah menengarai potensi kelangkaan, tetapi memang jelas lembaga ini tak bisa sendirian dalam implementasi suatu kebijakan atau inisiatif. Padahal, salah satu elemen solusi sudah sdh ada di tangan, seperti tersedianya bibit unggul kedelai plus yg ditemukan peneliti LIPI (Warta Kota, 19/11).
Hal yg sama kiranya juga bisa dikatakan utk sektor pertambangan. Giat mencetak SDM, ahli pertambangan, giat melakukan survei dan eksplorasi, dan menguasai dinamika pasar, menjadi kunci membangun ketahanan dan keunggulan.
Tanpa itu, yg akan selalu muncul- lebih-lebih ketika dunia seperti berebut komoditas- adalah ironi, bagaimana sebuah negara yg dilimpahi sumber daya alam aneka ragam setiap kali terpojok dalam posisi sulit utk memenuhi kebutuhannya sendiri.[-O-]
Rata Penuh

Selasa, 19 Oktober 2010

Menghibur Pejabat Dengan Berpeluh

Di teras bangunan simbol kolonialisme klasik yg terawat baik hingga kini, Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono, Wapres didampingi Ny Ida Kalla, para mentri dan pejabat negara duduk di podium beranak tangga setinggi sekitar 2 meter. Dari ketinggian itu, mereka menikmati tarian, nyanyian, dan tabuhan alat musik yg dipersembahkan kelompok-kelompok masyarakat dari seluruh Nusantara.
Sebanyak 3.575 orang terlibat dalam persembahan berjudul Gelar Budaya Nusantara. Gelar budaya ini merupakan rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-63 kemerdekaan RI. Istana meredeka yg dibangun pada masa Gubernur Jendral JW Van Lansberge tahun 1873 menjadi panggung pertunjukkan, selasa (19/8).
Peserta gelar budaya adalah wakil dari 33 provinsi. Mereka menampilkan keunikan masing-masing dgn kostumnya. Anak-anak dan orang tua berbaur menjadi satu. Panas matahari dan panas aspal yg membakar telapak kaki tak dihiraukan. Para pejabat terhibur. tepuk tangan menyambut setiap atraksi menarik. Mereka semua tertawa ketika 90 kethek ogleng (kera putih) dari Jawa Tengah berlari berhamburan di hadapan mereka.
Pawai budaya ini adalah acara rutin yg diselenggarakan sejak pemerintahan Presiden Yudhoyono. Ribuan orang hadir menyaksikan atraksi dan para pejabat yg duduk di depan mereka. Karena posisi duduk sejajar, orang yg duduk di belakang hanya melihat punggung orang lain di depannya. Separuh dari mereka meninggalkan Istana Merdeka tidak lama setelah pawai dimulai.
Peserta pawai mulai bergerak dari Jalan Medan Merdeka Utara, masuk halaman Istanan Merdeka, dan berjalan menyusuri Jalan Medan Merdeka Barat menuju Monumen Nasional yg dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno. Karena pawai tahunan ini, sejumlah ruas jalan di sekitar pawai ditutup sejak pukul 13.00.
Terbayang bagaimana kemacetan jalan-jalan yg menjadi limpahan jalan-jalan yg ditutup. Tanpa penutupan jalan saja kemacetan sudah seperti merayap seperti ular. Pengendara di Jalan Juanda, Jalan Veteran, dan Jalan Medan Merdeka Timur mengumpat karena minimnya informasi penutupan jalan.

Ketidakdisiplinan pengendara seperti mendapat tempat pelampiasannya di kekacauan jalan ini. Trotoar tempat pejalan kaki di terabas. Tempat teduh di bawah pohon dijadikan tempat istirahat sejenak karena kelelahan dan kepanasan.[-O-]

Rabu, 06 Oktober 2010

Azwir Berlebaran dalam Kesendirian

LEBARAN biasa menjadi momen bahagia saat berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Tetapi, bagi Azwir (33), warga desa Gugop, Pulau Breueh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Lebaran adalah kesendirian.
Inilah Lebaran kedua yg harus dilewati Azwir tanpa keluarga. Istri dan ketiga anaknya hilang ditelan gelombang tsunami dua tahun silam. Tak ada kabar kemana laut menghanyutkan jenazah keempat orang terkasih. Ketika bulan Rhamadan tiba, saat orang-orang berziarah di pusara keluarga yg telah meninggal, Azwir hanya bisa berdoa dalam sunyi di dalam kamar baraknya.
Dan, sore itu, seminggu menjelang lebaran, Azwir melewatkan buka puasa dalam kesendirian di kamar barak. Di luar kamar, suasana jalanan desa Gugop sangat sunyi. Maklum, desa di pulau kecil itu telah kehilangan lebih dari tiga perempat penduduknya. Dari sekitar 850 penduduk di Gugop sebelum tsunami, yg selamat hanya 200-an orang.
Malam itu tak ada suasana hingar-bingar penduduk di desa Gugop menyambut Lebaran. Tak ada kembang api ataupun bunyi petasan. Bahan, tawa ceria anak-anakpun sangat jarang terdengar. Hanya beberapa anak kecil di Desa Gugop yg selamat dari tsunami. Perempuan yg kehilangan suami dan anak-anaknya saat tsunami pd malam itu tengah membuat kue-kue Lebaran khas Aceh, seperti kue bada reteuk, karah, dan bohoi. Harum kue menguar dari pemanggang berupa kotak berbahan seng yg dipanaskan dgn kompor minyak tanah. Namun, harum kue lebaran itu justru membuat Azwir larut dalam kepedihan.
Momen lebaran selalu saja mengingatkannya kpd anak dan istri.”Menjelang lebaran seperti inilah yg paling pedih. Biasanya kami buka puasa dan sahur bersama-sama. Kemudian belanja ke Banda Aceh, menyiapkan baju utk anak-anak,” kenang Azwir. Kini tak ada persiapan khusus Azwir menyambut Lebaran.

Kembali ke Laut

Laut memang telah merengut orang-orang tercintanya, tetapi hidup Azwir tak bisa terpisahkan dari laut. Dari laut, Azwir menggantungkan hidup hingga kini. Hampir tiap malam Azwir menyelami lautan, mengambil berkah dari laut berupa udang lobster. Profesi yg ditekuninya sejak usia 9 tahun itu adalah satu-satunya tumpuan hidup.

Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu sehabis shalat tarawih, Azwir bersiap-siap mencari lobster. Di tengah udara dingin akibat hujan yg mengguyur di Pulau Breueh sejak sore hari, Azwir tetap melaut. Di tengah kehilangan yg sedemikian besar, Azwir mencoba membuat hidupnya lebih bermakna, dgn menjadi wali bagi anak-anak yatim di kampungnya. Lebaran kali ini memang sepi tanpa istri dan anak-anak kandungnya. Tetapi, Azwir kini tak sendiri. Dia menjadi tumpuan baru bagi anak-anak yatim di kampungnya.[-O-]

Jumat, 01 Oktober 2010

Mengais Setetes rezaki di Musim Kemarau

Kasim (46) tak lelah menyusuri jalan-jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Siang yg terik tak mengendurkan langkah kakinya yg hanya beralaskan sandal jepit. Sambil mendorong gerobak yg mengangkut jerigen air, sesekali ia berhenti di warung tepi jalan, menawarkan air kpd pelanggannya.
Keseharian Kasim adalah berdagang air keliling. Bersama dgn pedagang, ia mengambil air di sebuah sumur di Jatibunder, Tanah Abang, kemudian mengantar air bersih itu ke pelanggannya seharga Rp. 1.000 per jerigen. Sekali jalan, ia bisa mengangkut 16 jerigen dgn gerobak dorongnya.
Musim kemarau ini seakan memberi berkah bagi Kasim dan kawan-kawannya. Kalau orang lain mengeluh sulit mencari air akibat banyak sumber air mengecil, Kasim malah mendapat tambahan penghasilan. "Saat kemarau seperti ini, permintaan air semakin bertambah, tetapi saya tidak bisa melayani semuanya. Tidak kuat kalau harus bolak-balik mengangkut airk karena jaraknya jauh,” katanya sambil mengusap peluh yg membasahi dahinya dgn sobekan handuk yg menggantung di lehernya. Biasanya Kasim hanya berkeliling tiga kali jalan setiap hari. Namun, saat musim kemarau, ia bisa keliling hingga lima kali setiap hari. Dengan sekali jalan mengankut 16 jerigen, dalam sehari Kasim bisa mendapatkan penghasilan kotor Rp.80.000. Setelah dikurangi utk uang makan serta setoran pengambilan air, Kasim membawa pulang sisanya utk keluarga.
Cerita serupa dialami Doyok (50), pedagang air yg biasa menyuplai kebutuhan warung dan rumah di sekitar Pasar Tanah Abang. Meskipun ada permintaan lebih pd musim kemarau ini, ia tidak memaksakan diri untuk melayani semua permintaan air. Sehari, Doyok hanya empat kali jalan. Ia menjual satu jerigen seharga Rp.1.500. Meski demikian, tambahan keuntungan yg dia peroleh masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.“Kebutuhan keluarga selalu saja ada, padahal kerja kami hanya kuli begini,“ ujarnya.
Ramlan musim kemarau yg bakal menyebabkan kekeringan hingga bulan depan bagi sebagian besar orang adalah belitan hidup, karena mereka harus keluar ongkos baru utk membeli atau mencari air. Tetapi, bagi Kasim dan Doyok, kekeringan meneteskan sedikit harapan sehingga tak perlu berpikir menjual gerobak utk makan.[-O-]

Sabtu, 25 September 2010

Oase di Tengah Kerasnya Jakarta

Awan mendung masih menghalangi panasnya sinar matahari siang saat Rio dan Bintang sibuk mendribel bola basket dan bertanding one and one di lapangan basket Taman Menteng, Selasa (14/9). Kedua remaja yg masih duduk di bangku SMP itu terus bermain sambil sesekali melihat ke arah jalan. “Mumpung masih libur, kami man basket di siang hari. Sebentar lagi teman kami juga akan datang utk main basket,“ kata Rio.
Bagi remaja di Jakarta Pusat, Taman Menteng merupakan fasilitas publik yg sangat menyenangkan. Selain lapangan basket, di taman itu juga terdapat lapangan futsal dan jalur joging, yg juga dpt menjadi jalur sepeda. Mereka dpt bermain di taman seluas 3,4 hetar itu dari pagi sampai malam. Letaknya yg berada di persimpangan Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan M Yamin membuatnya mudah diakses dari beberapa arah.
Taman yg dulunya adalah Stadion Menteng itu kini memiliki pohon-pohon yg lumayan rindang. Pada saat taman itu selesai dibangun pd tahun 2007, pohon-pohon di Taman Menteng baru saja ditanam sehingga terkesan gersang.
Taman Menteng juga dilengkapi dgn sebuah gedung parkir berlantai empat sehingga pengunjung dari banyak wilayah dpt merasa tenang memarkirkan kendaraan dan menikmati keindahan taman. Selain menarik bagi remaja Taman Menteng juga menarik keluarga-keluarga muda dan pasangan muda-mudi. Bagi pasangan muda, Taman Menteng merupakan lokasi yg ideal utk berjalan-jalan dan bercengkrama.
Banyak tempat duduk di bawah pohon yg dpt dijadikan tempat bersantai dan menghabiskan waktu berdua. Banyak juga tempat menarik utk dijadikan latar belakang bagi yg doyan dipotret.
Kris dan Ayu, pasangan muda yg ditemui di Taman Menteng, mengatakan, mereka sering makan siang di restoran-restoran yg ada di dekat Taman Menteng dan berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke kantor d Jalan Rasuna Said. Mobil mereka d! parkirkan di gedung parkir agar lebih mudah. ”Taman Menteng memberi kami ruang utk menikmati alam dan mengasingkan diri sebentar dari hiruk-pikuk Jakarta yg membuat stress. Taman ini membuat Jakartaksedikit lebih ramah bagi warganya,” kata kris.
Bagi keluarga muda dgn anak yg masih balita, Taman Menteng juga menyediakan arena bermain anak-anak. Banyak peralatan permainan yg memungkinkan anak-anak memanjat, bergelantungan, dan perosotan atau meluncur dar atas ke bawah.

Sorot Lampu
Di sore dan malam hari, Taman Menteng diterangi banyak sorot lampu. Air mancur di taman itu akan tampak lebih indah jika ditimpa cahaya lampu pd sore hari.
Banyak pasangan muda datang ke Taman Menteng pd sore hari utk menikmati suasana yg indah. Jika mereka lapar, banyak pedagang makanan di kawasan itu yg berjualan pd sore sampai malam.
Di Taman Menteng juga ada dua bangunan dari kaca. Kedua bangunan itu dpt digunakan utk berbagai acara pameran atau resepsi pernikahan. Beberapa pasangan muda menyatakan minat utk menggelar resepsi di Taman Menteng saat tahu bangunan kaca di
taman ini pernah dan dapat disewa utk resepsi.“Kami ingin menggelar resepsi pernikahan di Taman Menteng. Taman ini rasanya seperti oase di tengah kehidupan Jakarta yg keras,“ kata kurnia dan Rini, pasangan yg akan menikah tahun depan.

Bersejarah

Stadion Menteng, yg kini jadi Taman Menteng, berkapasitas 10.000 penonton. Lapangan ini didirikan tahun 1921 dgn namaVoetbalbond Indische Omstreken Sport (Viosveld). Arsitek Belanda FJ Kubalt dan PAJ Moojen, yg merancang stadion yg kemudian menjadi sarang bagi Persija.

Ketika menjadi marias Persija, dari stadion ini terlahir pemain bola yg mengharumkan nama Jakarta dan Indonesia, seperti Anja Asmara, Abdul Kadir, Djamiat, iswadi idris dan Ronny Patinasarani.
Stadion ini sempat hanya digunakan secara terbatas bagi orang-orang Belanda utk berolah raga.
Pascakemerdekaan, tahun 1960, Presiden Soekarno menyerahkan stadion ini utk dipergunakan sebagai tempat bertanding dan berlatih bagi tim Persija. Sebelumnya Persija berlatih di stadion IKADA , yg pd tahun 1958 harus pindah karena mulai pembangunan Monas. Pada 1975, Surat keputusan Gubernur Jakarta tahun 1975 menetapkan stadion ini sebagai salah satu cagar budaya yg harus dilindungi.[-O-]

Kamis, 23 September 2010

Kapan Penyiksaan Terhadap Anak-Anak Akan Dihentikan?

Tidak ada yg bisa mencegah ketika Budi Kusmanto (26) tiba-tiba menghajar keponakannya yg masih berusia dua tahun, Anita, dgn balok kayu, Rabu (25/6). Anita, balita malang ini, langsung terkulai. Punggungnya tampak terluka parah akibat digebuk menggunakan balok kayu sepanjang 60 sentimeter sebanyak sembilan kali.
Usaha ibunya, Ny Erna, utk segera membawa anaknya ke RS daerah Pasar Rebo, Jaktim, tak membuahkan hasil. Bayi itu melepaskan nafasnya yg terakhir, tak lama setelah tiba di rumah sakit.
Tatkala ditanya wartawan, Budi menyebutkan bahwa ia memukul keponakannya karena iri, gara-gara ibunya, Ny Nana (nenek Anita), serta saudara-saudaranya, termasuk Ny Erna, lebih memanjakan Anita. tdk terima kenyataan itu, pengangguran lulusan SMU itu menghajar Anita. Tewasnya Anita, bocah berumur dua tahun, warga gang Mawar, Psr minggu, Jaksel, menambah panjang daftar kasus pembunuhan anak di Jakarta dan sekitarnya.
Utk kesekian kalinya masyarakat tersentak akan sebuah kenyataan bahwa dari hari ke hari, tewasnya anak akibat kekerasan, baik oleh orang dewasa maupun oleh teman bermainnya dalam kasus-kasus tertentu, terus terjadi.
Pengakuan Budi bahwa ia merasa lega setelah Anita terbunuh karena "pesaingnya" telah tiada benar-benar menggetarkan seluruh pilar perasaan. Anita yg sehari-hari ceria dan seharusnya masih menikmati indahnya masa anak-anak kini telah tiada. Ia bukan hanya kehilangan masa anak-anak, tetapi telah kehilangan hak hidupnya.
Polisi kini sdg menyelidiki dugaan bahwa Budi menderita gangguan psikis, yg pd akhirnya membuatnya tega menganiaya keponakan. Kepala Polsek Metro Psr Minggu, Komisaris Didik akan memastikan kondisi kesehatan Budi dgn meminta bantuan psikolog. "Sedang diupayakan ke sana. Saat ini sdg dalam proses. Kami harus hati-hati utk menentukan bagaimana kondisi psikis seorang tersangka, ujarnya.
Menurut catatan Z Post, kasusu Anita setidaknya menjadi indikasi bahwa masalah pengangguran yg bermuara pd persoalan ekonomi, berpotensi menjadi salah satu sebab penganiayaan terhdp anak, yg berujung pd kematian.
Budi, yg setelah lulus SMA tak meneruskan ke bangku kuliah, menjadi pengangguran karena kalah bersaing dgn pencari kerja lainnya. Ia merasa tersisih karena tdk produktif.

JIKA diurut-urut, cukup panjang daftar peristiwa penganiayaan terhadap anak kecil yg tak berdaya. Diantaranya terjadi pd 10 Mei 2003. Bayu Setiawan, yg belum genap tiga tahun, ditemukan tewas di gubuk orang tuanya di tepi kali Sekretaris, Kedoya, Jakbar. Tubuh korban penuh luka dan bekas sundutan rokok. Polisi menduga Bayu tewas setelah dianiaya Jumiati, ibu tirinya.
Ayah kandung Bayu, Bejo, kpd Polisi mengatakan bahwa terakhir kali Bayu bersama istrinya. Bejo juga mengaku, ia dan istrinya sering terlibat cekcok. karena masalah ekonomi sebab penghasilannya sebagai pemulung tidak menentu.
Djalul Pinan (25), termasuk diantara pria yg suka melakukan kekerasan. Ia tega mendorong kencang ayunan bayinya hingga bayi itu jatuh membentur lantai. Tindakan ini ia lakukan hanya karena tdk tahan mendengar bayinya,, Rizki Djalul, terus menangis.

Kekejaman yg sama dilakukan Suheri (27) pd tanggal 14 April. Suheri diduga menganiaya hingga tewas anak tirinya, Fadilah (4). Penganiayaan terjadi di Bedeng Suheri di kampung Velbak, Pendongkelan, dekat persimpangan Coca Cola, kelapa Gading, Jakut.

Kejahatan atas Fadilah terungkap setelah pihak Rumah Sakit Islam Cempaka Putih menolak permintaan Suheri utk memberi keterangan bahwa korban meninggal akibat jatuh dari tangga. Pasalnya, korban yg sdh meninggal ketika tiba di RS itu tdk menunjukkan luka-luka orang yg jatuh dari ketinggian. Sebaliknya ditubuh korban terdpt luka memar dan bengkak, yakni di kepala belakang, perut, dan punggung. itu bukan kerena jatuh, tetapi karena pukulan benda tumpul.

APAKAH yg menyebabkan pria dan wanita dewasa demikian mudah melakukan kekerasan pd anak-anak kecil? yayat Supriatna, ahli tata kota, menyebutkan, sebagian warga Jakarta stress oleh pekerjaan, kehidupan ekonomi yg sulit, atau keadaan sekitar yg sangat menghimpit perasaan.
Fakta lain ialah, kepadatan Jakarta, yg menurut Gubernur DKI mencapai 14.000 penduduk per kilometer persegi, pd akhirnya membuat persaingan antar penduduk demikian sengit. Bahkan di daerah tertentu, seperti Tambora, Jakbar, dan Senen, Jakpus, kepadatan itu mencapai 20.000 penduduk per km persegi. Bagi mereka yg berkemampuan tentu tak masalah karena dpt memenangkannya.
Namun, bagi yg tak mampu, apakah itu karena betul-betul tdk mampu atau tdk berkesempatan karena tak punya biaya, mereka akan tersisih, termarjinalkan oleh keadaan yg menghimpit. Jika perasaan kalah dan terpinggirkan ini tak segera teratasi, dmpaknya bisa panjang karena akan menjadi gumpalan kekesalan seperti dialami Budi Kusnanto.
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi menyebutkan, dari pemantauan dan percakapan dgn banyak orang tua, ia menduga 50-6- persen orang tua melakukan kekerasan terhadap anak (child abuse)
Bentuk kekerasan yg paling sering, seperti kata-kata kasar (bodoh, kamu besok tidak akan menjadi apa-apa) sampai jeweran dan pukulan. "Ini sangat memprihatinkan," katanya, dalam sebuah kesempatan.
Pandangan Yayat Supriatna dan seto Mulyadi tentu benar. Akan tetapi, jalan keluar utk memecahkan masalah ini tentu mutlak dilakukan. Kekerasan atas sesama manusia amat terlarang, apa lagi terhadap anak kecil yg tdk berdaya. Repotnya, tdk banyak diantara kita yg memikirkan terobosan utk menghentikan semua bentuk kekerasan terhadap anak-anak. Tidak banyak yg memikirkan regulasi yg yg riil dan aplikatif utk segera menumpas segala bentuk kekerasan tsb.
Daftar anak-anak kecil, yg menjadi korban kebuasan orang dewasa sdh terlampau panjang. Masih perlukah diperpanjang lagi? Kapan penyiksaan terhadap anak dihentikan? Orang tua atau orang dewasa, digambarkan sastrawan besar Khalil Gibran sbg busur dan anak-anak itu adalah panah.[-O-]

Senin, 20 September 2010

Nasib Nirmala, Imbas Kemiskinan NTT

Nama Nirmala Bonat (19) tiba-tiba mencuat menghiasi ruang media massa cetak dan elektronik, baik di Indonesia, negri kelahirannya, maupun di Malaysia, tempat dia mengadu nasib. Nirmala, gadis kelahiran Tuapakas, Kualin, Timor Tengah Selatan, NTT, menjadi "terkenal" justru karena menjadi korban kekejian majikannya.
Tidak pernah dikira oleh Martha Toni, ibu kandung Nirmala, bahwa anaknya itu disiksa secara kejam. Peristiwa yg dilami Nirmala, secara langsung atau tidak memotret kembali kondisi riil tanah kelahirannya yg terpencil, miskin dan tertinggal di ujung jarak 165 kilometer dari Kupang. Desa itu hanya dapat dijangkau dgn sepedamotor atau mobil gardan ganda. Tidak bakal ada bus atau angkutan desa reguler ke Tuapakas.
Lebih banyak orang berjalan kaki ke desa ini. John Salukh, staf dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi NTT, dan beberapa rekan dari PT Kurnia Bina Rizki Kupang, perusahaan yg mengirim Nirmala ke Malaysia, mesti berjalan kaki 8 km setelah mobil yg mereka tumpangi tak sanggup melintas jalan berbatu di bukit terjal Tuapakas.
Tuapakas terletak di sebuah bukit dgn dataran luas. Desa ini dikepung deretan perbukitan dgn alam yg hijau. Di datarannya tumbuh ribuan pohon kelapa dan pohon buah-buahan lain seperti mangga. Tetapi hidup rakyatnya sangat miskin dan amat sulit selama musim kemarau berlangsung April-November.
Hidup warga di Tuapakas lebih banyak mengandalkan hasil pertanian lahan kering seperti jagung, singkong, dan umbi-umbian, serta usaha ternak ayam, babi, dan sapi. Mantan kepala desa Tuapakas Daniel Bire yg juga paman Nirmala Bonat mengisahkan kesulitan pangan yg sering dialami warga.
Di desa inilah Nirmala lahir dari rahim Martha Toni, buah cintanya dgn Daniel Bonat 27 Agustus 1984.
Daniel meninggalkan Martha dan kawin lagi saat Nirmala masih bayi. Didorong kesulitan hidup, saat Nirmala berusia sekitar enam tahun, Martha kawin dgn Leo Thomas.
Sama seperti Daniel Bonat, Leo Thomaspun pergi meninggalkan Martha yg kala itu sedang hamil tua. Bayi yg kemudian terlahir sebagai adik tiri Nirmala itu diberi nama Vita Leo (12).

”Kondisi ekonomi yg sulit dan tidak pasti itulah yg mendorong banyak warga Tuapakas merantau ke luar, termasuk Nirmala ini,” kata Daniel Bire, sesaat sebelum meninggalkan Kupang menuju Jakarta Selasa (25/5), untuk seterusnya hari Rabu menuju Kuala Lumpur menemani Martha menjenguk Nirmala.

Nasib Nirmala da kondisi Tuapakas sebenarnya merefleksikan sebuah persoalan besar di belakangnya, akar permasalahan NTT, yakni kemiskinan dan jauhnya hiruk pikuk pembangunan desa.

Meski penanggulangan kemiskinan di NTT sudah dilaksanakan sejak era Orde Baru, masalah itu tidak pernah surut dari provinsi berpenduduk 4.110.929 jiwa in (februari 2004). Kini 30,74 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.

Sebanyak 77,8 persen penduduknya masih berpendidikan SD. Penduduk yg buta huruf, 13,28 persen dari penduduk usia sekolah,3.007.510 orang. Tingkat kematian ibu hamil tinggi, yakni 550 ibu hamil mati di antara 100.000 kelahiran, dan 50 bayi mati di antara 1.000 kelahiran.

Status gizi buruk dan kurang gizi balitapun masih tinggi, 35,5 persen. Di antara 100.000 penduduk hanya ada tujuh dokter, tetapi dokter hanya ada di kota kecamatan dan jumlahnya sangat terbatas karena mereka terkonsentrasi di kota kabupaten dan provinsi.

Di bidang ekonomi sampai dgn tahun 2003, sektor pertanian/primer membentuk 43,60 persen produk domestik regional bruto. Tingkat pendapatan perkapita baru sekitar Rp.2,2 juta pertahun atau sekitar Rp.3.500 sampai Rp.5.000 per hari. Disaat realisasi investasi sangat rendah, pemerintah daerah mengenjot pajak dan retribusi terhadap warga.
Akibatnya, seperti yg dilukiskan pemerhati masalah pembangunan lokal NTT Dr Fred Benu dari Universitas Nusa Cendana, kemiskinan menjadi begitu kental. Umumnya msyarakat miskin tak mampu memenuhi kebutuhan dasar pangan/gizi, sandang papan, pendidikan dan kesehatan.
Ditambah dgn sumber daya alam yg terbatas, daerah yg tandus dan gersang, membuat tingkat kemiskinan makin tinggi di NTT. Tetapi, sebenarnya bukan itu masalahnya, seperti diakui ketua Bapeda NTT Piet J Nuwa Wea dihadapan peserta rapat kerja dgn Badan-Badan PBB di Kupang, pertengahan Mei ini.
Kata Piet Nuwa Wea, masyarakat NTT, termasuk kalangan pejabatnya, selalu mengambing hitamkan keadan alam yg gersang dan tandus sbg penyebab kemiskinan Dia membandingkan dgn sejumlah daerah yg tandus di Jawa, namun masyarakatnya sangat maju di bidang industri pengolahan hasil pertanian.
NTT sebenarnya memiliki potensi besar dibidang peternakan, perikanan dan pariwisata, serta industri rumah tangga. tapi sekitar 4,5 Triliun dana yg mengalir ke NTT setiap tahunnya tdk sanggup menyejahterakan rakyat. Program pengentasan kemiskinan masih sangat parsial dan sarat praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Blasius Udak dari Yayasan Peduli Sesama, yg selama ini kritis dan keras melakukan advokasi terhadap rakyat yg terkena dampak praktik KKN dan ketimpangan pembangunan di NTT, menjelaskan, kemiskinan di NTT disebabkan oleh korupsi. Sekitar 60 persen dana utk penduduk miskin tdk menetes kesasarannya.
ingat kasus rumpon di belu yg menelan Rp 4,3 miliar? Sekitar Rp 2,4 miliarnya tdk sampai ke sasaran alias disalah-gunakan (korupsi). Demikian juga kasus rumpon di kupang yg menelan Rp. 3,8 miliar, sekitar Rp 1 miliar menguap.
Di tengah persoalan tsb, terdpt 2,83 juta jiwa penduduk NTT (April 2004) masuk dalam kategori "angkatan kerja", tapi 28 persen di antaranya hanya tamat SD.
Kepala Dinas Nakertrans NTT Ignatius Conterius mengatakan, ada persoalan besar di depan mata. Persoalan itu adalah bagaimana agar angkatan kerja tadi bisa terserap di pasar kerja lokal, regional, dan luar negri. Pasar kerja lokal yg tersedia hanya di sektor pertanian yg "morat-marit". Pasar kerja lokal yg "basah" tdk bisa menyerap tenaga kerja tamatan SD. Conterius menjelaskan, hanya pasar kerja luar negri seperti Malaysia (utk perkebunan sawit dan karet) yg menyerap tenaga kerja tamatan SD atau tanpa skill (keahlian khusus), termasuk utk pembantu rumah tangga. Pencari kerja tamatan SMP/A di NTT pun tdk memiliki keahlian khusus atau spesialisasi tertentu.
Meski demikian, kata Conterius, pencari kerja yg tamat SD dan SMP lebih berpeluang mendapat kerja di luar negri (Malaysia) sbg buruh kasar dgn gaji antara Rp. 1 juta sampai 1,5 juta per bulan, dibandingkan dgn pasar kerja lokal dan regional. Itu sebabnya, saat ini NTT telah mengirim 5.877 TKI, terbanyak (5.646 org) di Malaysia, termasuk Nirmala Bonat.

Nirmala diberangkatkan oleh PT Kurnia Insan Rizki cabang Kupang per 26 Juni 2003, seperti dilaporkan Balai Pelayanan dan Penempatan TKI di Kupang, bersama 26 rekannya. Semuanya bertekad mengais ringgit, ingin hidup lbh baik, namun nasib Nirmala sangat buruk.

Sebenarnya data jumlah TKI asal NTT tadi hasil pengiriman secara resmi melalui PJTKI yg beroperasi resmi pula. Conterius mengaku, hampir setiap pekan ada saja TKI ilegal yg pergi keluar dari NTT menuju Malaysia, dan saat ini jumlahnya jauh lebih besar dari TKI resmi.[-O-]