Kamis, 14 Oktober 2010

Daftar Pejabat Perusahaan

A. PT PLN Sektor Belawan
JL. Pulo Sicanang No.1, Belawan, Sumatera Utara. (20416)
Telp. (061)6941142, 6940559, 6942278/0847

-Manager Sektor : Ir. Arjuna Affandi
-Manager Perbekalan : Ir.Bachtear

B. PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP)
Jakarta off (Adm. off) , telp.(021)3929001
Perawang (factory), telp.(0761)91088, 91030

Head Office (Serpong), telp.(021)53120001
Factory di Serpong : Telp.(021)53120222 dan fax : (021) 53120313
Attn : Ronald Hartadi (Kepala Purchasing)
Panji Sucahyo (Senior Staf Purch.)
M.Ikhlas Mappatunwu (Plant Manager)
J.J Huang (Manager Purchasing)
Robert Tanaka (Wakil Manager Purchasing)

(data : Selasa, 13 Januari 2004)



C. PT Pupuk Kalimantan Timur
-Procurement Manager : Ir.Alfian Aman
-Kasie Pengadaan Jakarta : Sumardjoko.
Telp.(021)5255595, 5210244

(data : Selasa, 13 Januari 2004)

Selasa, 12 Oktober 2010

Gerak Cepat Atasi Gelombang PHK

Pemerintah akan mengatasi gelombang pemutusan hubungan kerja dgn segera menjalankan proyek-proyek infrastruktur. Pemerintah berharap, dgn angka stimulus fiskal yg signifikan dan dipercepat pelaksanaannya, gelombang PHK bisa diredam.
Demikian disampaikan Wapres Jusuf Kalla, Jumat (6/3) di Istana Wapres, Jakarta. "Memang ada PHK. Akan tetapi, dgn proyek baru dari stimulus fiskal dgn angka yg signifikan, seperti utk proyek infrastruktur yg akan dipercepat pelaksanaannya serta pemberian fasilitas pajak, mudah-mudahan itu dpt menyerap banyak tenaga kerja yg di PHK," ujar Wapres Kalla.
Wapres menanggapi dampak krisis ekonomi global yg sdh sampai ke Indonesia. Data dari Depnakertrans menunjukan, sampai tanggal 27 Februari, sebanyak 37.095 buruh terkena PHK akibat kolapsnya sejumlah industri. Ini belum termasuk 16.000 buruh yg dirumahkan karena pabrik tdk lagi optimal dalam produksi (kompas, 6/3).
Menurut Wapres, melalui stimulus fiskal di berbagai proyek pembangunan, seperti infrastruktur jalan tol, bandar udara, pelabuhan, proyek listrik 10.000 MW tahap I dan II, 10 juta sambungan air bersih, dan penngkatan ekspor, hal itu dpt menyerap kembali sekitar 38.000 tenaga kerja yg sebelumnya terkena PHK.

Saat ditanya sampai berapa perkiraan tenaga kerja yg bisa diserap, Wapres Kalla menjawab, hal tsb hanya soal waktu. Kalau dihitung dgn stimulus fiskal secara keseluruhan, saya kira bisa mengimbangi gelombang PHK yg terjadi sampai 38.000 orang,“ ujarnya.



Di Tampung di BLK
Di tempat terpisah, Menakertrans Erman Suparno menjelaskan, sebanyak 600 ribu TKI yg terkena PHK di luar negri akan ditampung pada program pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) di 200 kabupaten. Mereka diharapkan mendapatkan ketrampilan baru yg akan menjadi bahan utk mencari pekerjaan pengganti di dalam negri.

Menurut Herman, total lapangan kerja yg akan tercipta akibat pencairan stimulus fiscal masih diperhitungkan oleh departemen masing-masing karena terjadi berkali-kali perubahan data. Namun, khusus utk Depnakertrans jumlah penyerapannya sebanyak 600 ribu orang, yg semuanya adalah TKI yg dididik di BLK yg ada di 33 provinsi.
Menteri PU Djoko Kirmanto mengatakan anggaran stimulus sebesar Rp.6,6 Triliun itu diharapkan menciptakan lapangan kerja baru utk 500 ribu orang.
Proyek yg kami prioritaskan adalah rehabilitasi kerusakan-kerusakan akibat banjir pada banjir yg lalu, seperti di sekitar Bengawan Solo (Rp.300 miliar) dan provinsi lain. Kebanyakan akan digunakan utk membangun tanggul yg rusak karena banjir. Itu kontraknya sdh ada, jadi kami tinggal membayarnya saja," kata Djoko.
Anggaran stimulus fiskal utk infrastruktur mulai disalurkan setelah 18 Maret 2009. Oleh karena itu, 11 departemen dan kementrian non departemen penerima stimulus fiskal infrastruktur harus menetapkan detail proyek-proyeknya maksimal pd 11 Maret 2009. "Kementrian dan lembaga harus menyelesaikan RKA (rencana kerja anggaran) maksimal 11 Maret. Setelah itu, departemen Keuangan akan menyelesaikan penyusunan DIPA (daftar Isian pelaksanaan anggaran) maksimal 18 Maret 2009," ujar Sri Mulyani.
Di Bawen, Jawa Tengah, Koordinator Tim AAPI (Advokasi Asosiasi Pengusaha Indonesia) Jateng Agung Wahono mengingatkan, gelombang PHK saat ini masih merupakan badai awal dari gelombang lebih besar yg diperkirakan berlangsung akhir semester I-2009. sayangnya hampir semua pemerintah di kabupaten dan kota Jateng belum mempunyai program jaring pengaman PHK yg riil.


Masih Separuhnya
Agung Wahono mengatakan, gelombang PHK di Jateng saat ini mencapai 5.000 pekerja, masih separuh dari angka yg direncanakan perusahaan sekitar 10.000 orang. "Ada 15 perusahaan orientasi ekspor yg sdh konsultasi dan mereka mulai merealisasikan PHK bertahap mulai awal tahun ini. Puncaknya antara April dan Juni apabila belum ada sinyal positif dari pasar," katanya.
Di kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, dari catatan Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Keluarga Berencana (Disnakersos KB) Sleman, jumlah perusahaan yg melakukan PHK hingga saat ini tercatat sebanyak 37. Adapun jumlah tenaga kerja yg terkena PHK mencapai 533 orang.
"Untuk periode Januari sampai Maret ini, tercatat 15 PHK yg dilakukan lima perusahaan," ujar Kepala Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnakersos KB Sleman Basuki.
Ia menambahkan, dampak krisis juga membuat delapan perusahaan mengajukan penundaan pembayaran upah minimum provinsi pd 2008, atau lebih banyak dari tahun 2007 yg hanya dua perusahaan.[-O-]

Rabu, 06 Oktober 2010

Azwir Berlebaran dalam Kesendirian

LEBARAN biasa menjadi momen bahagia saat berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Tetapi, bagi Azwir (33), warga desa Gugop, Pulau Breueh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Lebaran adalah kesendirian.
Inilah Lebaran kedua yg harus dilewati Azwir tanpa keluarga. Istri dan ketiga anaknya hilang ditelan gelombang tsunami dua tahun silam. Tak ada kabar kemana laut menghanyutkan jenazah keempat orang terkasih. Ketika bulan Rhamadan tiba, saat orang-orang berziarah di pusara keluarga yg telah meninggal, Azwir hanya bisa berdoa dalam sunyi di dalam kamar baraknya.
Dan, sore itu, seminggu menjelang lebaran, Azwir melewatkan buka puasa dalam kesendirian di kamar barak. Di luar kamar, suasana jalanan desa Gugop sangat sunyi. Maklum, desa di pulau kecil itu telah kehilangan lebih dari tiga perempat penduduknya. Dari sekitar 850 penduduk di Gugop sebelum tsunami, yg selamat hanya 200-an orang.
Malam itu tak ada suasana hingar-bingar penduduk di desa Gugop menyambut Lebaran. Tak ada kembang api ataupun bunyi petasan. Bahan, tawa ceria anak-anakpun sangat jarang terdengar. Hanya beberapa anak kecil di Desa Gugop yg selamat dari tsunami. Perempuan yg kehilangan suami dan anak-anaknya saat tsunami pd malam itu tengah membuat kue-kue Lebaran khas Aceh, seperti kue bada reteuk, karah, dan bohoi. Harum kue menguar dari pemanggang berupa kotak berbahan seng yg dipanaskan dgn kompor minyak tanah. Namun, harum kue lebaran itu justru membuat Azwir larut dalam kepedihan.
Momen lebaran selalu saja mengingatkannya kpd anak dan istri.”Menjelang lebaran seperti inilah yg paling pedih. Biasanya kami buka puasa dan sahur bersama-sama. Kemudian belanja ke Banda Aceh, menyiapkan baju utk anak-anak,” kenang Azwir. Kini tak ada persiapan khusus Azwir menyambut Lebaran.

Kembali ke Laut

Laut memang telah merengut orang-orang tercintanya, tetapi hidup Azwir tak bisa terpisahkan dari laut. Dari laut, Azwir menggantungkan hidup hingga kini. Hampir tiap malam Azwir menyelami lautan, mengambil berkah dari laut berupa udang lobster. Profesi yg ditekuninya sejak usia 9 tahun itu adalah satu-satunya tumpuan hidup.

Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu sehabis shalat tarawih, Azwir bersiap-siap mencari lobster. Di tengah udara dingin akibat hujan yg mengguyur di Pulau Breueh sejak sore hari, Azwir tetap melaut. Di tengah kehilangan yg sedemikian besar, Azwir mencoba membuat hidupnya lebih bermakna, dgn menjadi wali bagi anak-anak yatim di kampungnya. Lebaran kali ini memang sepi tanpa istri dan anak-anak kandungnya. Tetapi, Azwir kini tak sendiri. Dia menjadi tumpuan baru bagi anak-anak yatim di kampungnya.[-O-]

Senin, 04 Oktober 2010

Pesan Moral Dari Jayawijaya

DINGINNYA udara dan tebal kabut tidak menyurutkan niat para pendaki yg tergabung dalam tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia utk merayakan peringatan Hari Bumi di kawasan es Nggapulu, Pegunungan Jayawijaya, Papua, Kamis (22/4), atau di ketinggian sekitar 4.700 meter dpl.
Di kawasan yg jaraknya sekitar 150 meter lagi menuju Puncak Nggapul atau Soekarno tsb, mereka merenungkan arti penting bagi kondisi lingkungan saat ini. Pemanasan Global, perubahan iklim, kerusakan hutan, dan alih fungsi lahan membuat bencana semakin dekat pada manusia.
Sekitar 23 orang yg tergabung dalam tim Alfa dan tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia ini memiliki asa yg sama, yaitu perubahan perlakuan lingkungan utk kehidupan Bumi yg lebih baik.
Dari lebah Danau-Danau, tim Bravo berangkat sekitar pukul 08.00 WIT atau 06.00 WIB. Tim menempuh perjalanan sekitar 4 jam sebelum mencapai lokasi lokasi yg dituju, padang es yg diapit puncak Nggapulu dan Puncak Soemantri.
Sehari sebelumnya atau pada Rabu (21/4), tim Alfa sdh lebih dahulu berada dikawasan puncak Nggapulu. Mereka mendirikan tenda utk berlatih menginap di atas medan es. Tujuannya, agar mereka terbiasa dgn medan dan suhu ekstrim yg nantinya akan mereka hadapi di puncak-puncak gunung tertinggi lainnya.
Setelah kedua tim bertemu di atas medan es, mereka kemudian mendaki dgn berpegang tali agar dpt bergerak bersama. Namun, pekatnya kabut cukup menghambat perjalanan tim. Jarak pandang hanya sekitar 3 meter. Belum lagi dinginnya udara dan hujan yg mendera anggota tim. Agar tdk menggigil kedinginan, semua pendaki harus bergerak dan berjalan dalam jarak dekat.

Setelah tiba di padang es, sesama anggota tim saling mengamit tangan. Mereka mengheningkan cipta sejenak, kemudian disambung dgn nyanyian penyemangat. Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yopie Rikson membuka sambutan dalam ”seremoni” kecil itu. Dia menekankan, kegiatan ini hanya utk memberi pesan soal kerusakan lingkungan.

Anggota Wanadri angkatan 1968/1969 yg tergabung dalam Tim Bravo, Iwan Hignasto (58), mengungkapkan, perayaan Hari Bumi di kawasan es Nggapulu ini juga utk memberikan kesadaran secara luas kpd masyarakat akan ancaman pemanasan global.
"Pemanasan global membuat es menyusut di pegunungan Jayawijaya ini begitu pesat. Ada juga gejala lokalyg timbul, seperti banjir dan kekeringan," kata Iwan. Anggota Wanadri lainnya, Renny Tjahari (65), mengajak seluruh masyarakat agar mau bertindak sesuatu sesuai dgn kompetensi masing-masing. "Dengan menanam pohon atau mengurangi kegiatan yg menghasilkan polusi," ucapnya

Pemimpin Berani
Selain kesadaran masyarakat, menurut Erry Ryana Hardjapamekas, mantan Ketua Komisi Pemberantas Korupsi, yg tergabung dalam Tim Bravo, utk menangani persoalan lingkungan yg semakin parah dibutuhkan juga kebijakan yg berani dari pemimpin bangsa, baik dari kalangan eksekutif maupun legislatif.
Seperti halnya korupsi, kata dia, penanganan kerusakan lingkungan harus dgn kepastian hukum. Pemerintah bisa saja memberikan batasan masa pelanggaran yg dpt diampuni jika memang kesulitan mendeteksi waktu pelanggaran. "Misalnya, pemerintah mengampuni pelanggaran lingkungan yg pernah dilakukan hingga tahun 2000. Dengan catatan, perusak lingkungan harus memberikan denda senilai 50 persen sesuai dgn tingkat kesalahannya,"kata Erry.
Namun, setelah tahun yg ditentukan, pemerintah harus memberikan hukuman berat agar terdapat efek jera bagi perusak lingkungan meskipun berasal dari perusahaan besar. "Hanya saja, butuh pemimpin yg berani mengambil resiko utk membuat keputusan yg tdk populis tsb," kata Erry.
Tidak adanya keputusan yg tegas utk menindak perusak lingkungan, seperti perambah hutan secara liar, pertambangan ilegal, dan pelaku eksploitasi sumber daya alam secara masif, membuat dampak pemanasan global tdk akan bisa dicegah. Iwan menambahkan, parahnya dampak pemanasan global sekarang ini membuat masyarakat dunia beradaptasi dgn perubahan lingkungan, tdk lagi melakukan mitigasi.
Seusai upacar, tim kembali turun ke kamp terakhir di Lembah Danau-Danau. Selama perjalanan turun, mereka mengumpulkan sampah anorganik, baik yg mereka hasilkan maupun yg mereka temukan di sepanjang jalur, utk konservasi. Tak pelak, kampanye "kecil" tim ekspedisi pd hari Bumi ini memang ingin memberikan pesan moral bagi pemimpin bangsa. Keselamatan lingkungan hanya akan menjadi wacana jika pemimpinnya terus membiarkan eksploitasi lingkungan secara besar-besaran berlangsung.[-O-]

Minggu, 03 Oktober 2010

Ibu Rumah Tangga Kecopetan

Sial benar nasib Rahmawati, 30, penduduk jalan Abdul Salim Gang Keluarga Pasar I Tanjung Sari, bersama kemenakannya Siti Meisarah, 17, warga Jalan Pondok Kelapa Kampung Lalang Medan. Pasalnya, saat mereka berdua mau berbelanja di Pajak Petisah, dompet yg tersimpan di dalam tas sandangnya, Minggu (30/7) sekira pukul 16.20 WIB, raib diembat maling.

Kepada petugas Polsekta Medan Baru ketika mengadukan peristiwa yg dialaminya, Rahmawati sebelumnya sudah merasakan adanya sinyal tidak enak yg akan menimpa dirinya. Makanya, ketika kemenakannya datang mengajak utk berbelanja, Rahmawati sempat menolak. Namun karena didesak terus, akhirnya Rahmawati bersedia utk menikmati liburan di hari Minggunya sambil berbelanja di Pajak Petisah.

Sesampainya mereka di Pajak Petisah, Rahmawati memarkirkan sepeda motornya di halaman parker pajak itu. Lalu keduanya bergegas menuju tempat penjualan pakaian yg ada di lantai satu. Hanya sesuatu yg janggal dirasakan Rahmawati, mulai sejak dirinya dan kemenakannya masuk ke pajak tsb, seorang ibu rumah tangga yg diperkirakan berusia kepala empat terus saja mengikuti dan memepetnya di keramaian. Namun, dugaan Rahmawati terhadap omak-omak itu masih dijauhkannya karena dia beranggapan tdk mungkin seseorang wanita mau berbuat jahat seperti itu.

Namun, alangkah terkejutnya korban, begitu sepeninggal omak-omak itu, dirinya melihat tas tangannya, sudah dalam keadaan tdk utuh lagi. Rahmawati semakin terperanjat begitu memeriksa tasnya, dompet yg berisikan uang Rp. 350 ribu, STNK, dan ATM yg sebelumnya nangkreng di situ, hilang tak berbekas.

Kapolsekta Medan Baru, AKP Yusfhi M Nasution SSos Sik, membenarkan adanya peristiwa tsb dan laporan korban masih dalam proses pemeriksaan petugas guna mengungkap pelaku pencopetan tsb.[-O-]

Sabtu, 02 Oktober 2010

Karyawati Restoran Tewas Terbakar di Kamar Kontrakan

Siti Mahmud (19), karyawati sebuah restoran, tewas terbaar di kamar kontrakannya dalam musibah kebakaran di Kampung Petak Asam Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (18/7) pukul 13.30.
Sebelumnya, pukul 09.00, si jago merah juga melalap puluhan rumah milik 42 keluarga di Rawa Barat, kebayoran Baru, Jaksel. Api diduga berasal dari kompor minyak milik Sutinah.
Dalam kebakaran di Penjaringan ini, selain menewaskan Siti, sebuah gudang dan sekitar 40 kamar kos yg berdinding tripleks dan beratapkan seng, termasuk kamar korban, ludes terbakar. Tarjuki (28), yg sudah empat tahun menghuni salah satu kamar kontrakan itu, menyebutkan, api di duga dari kompor.
Menurut Abdul Rahman, ketua Regu Piket Suku Dinas kebakaran Jakut, api diduga berasal dari hubungan arus pendek listrik. Namun, polisi masih menyelidiki asal api. Petugas sempat kesulitan mencapai lokasi kebakaran yg terletak di sisi rel kereta api Jakarta kota-Ancol dan kolong tol Jembatan Tiga karena jauh dari jalan raya. Api dipadamkan dua jam kemudian, sekitar pukul 15.30.
Wartani (42), kakak kandung korban, menuturkan, adiknya itu anak ketiga dari sembilan bersaudara. Sehari-hari, Siti bekerja sebagai pelayan sebuah restoran tdk jauh dari lokasi kebakaran.”Dia sdh dua tahun bekerja di sana setelah tiga bulan tinggal bersama saya“, katanya.
Jenazah korban yg hangus lalu dibawa ke RSCM utk diperiksa. Ketua RW 05 Mursidi dan saudara kandung korban ikut mengantar jenazah ke RSCM. Wartini menyebutkan, di lokasi yg terbakar itu terdapat 40 kamar kos (kontrakan) milik beberapa warga. Misalnya, Taryo memiliki empat kamar, Munir enam kamar, dan Wati 16 kamar, Syarif dan dua orang lainnya juga memiliki belasan kamar. Sedangkan gudang yg menjadi tempat penyimpanan drum, yg juga ludes, adalah milik Akiong. Sebuah warung nasi juga terbakar.[-O-]

Jumat, 01 Oktober 2010

Mengais Setetes rezaki di Musim Kemarau

Kasim (46) tak lelah menyusuri jalan-jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Siang yg terik tak mengendurkan langkah kakinya yg hanya beralaskan sandal jepit. Sambil mendorong gerobak yg mengangkut jerigen air, sesekali ia berhenti di warung tepi jalan, menawarkan air kpd pelanggannya.
Keseharian Kasim adalah berdagang air keliling. Bersama dgn pedagang, ia mengambil air di sebuah sumur di Jatibunder, Tanah Abang, kemudian mengantar air bersih itu ke pelanggannya seharga Rp. 1.000 per jerigen. Sekali jalan, ia bisa mengangkut 16 jerigen dgn gerobak dorongnya.
Musim kemarau ini seakan memberi berkah bagi Kasim dan kawan-kawannya. Kalau orang lain mengeluh sulit mencari air akibat banyak sumber air mengecil, Kasim malah mendapat tambahan penghasilan. "Saat kemarau seperti ini, permintaan air semakin bertambah, tetapi saya tidak bisa melayani semuanya. Tidak kuat kalau harus bolak-balik mengangkut airk karena jaraknya jauh,” katanya sambil mengusap peluh yg membasahi dahinya dgn sobekan handuk yg menggantung di lehernya. Biasanya Kasim hanya berkeliling tiga kali jalan setiap hari. Namun, saat musim kemarau, ia bisa keliling hingga lima kali setiap hari. Dengan sekali jalan mengankut 16 jerigen, dalam sehari Kasim bisa mendapatkan penghasilan kotor Rp.80.000. Setelah dikurangi utk uang makan serta setoran pengambilan air, Kasim membawa pulang sisanya utk keluarga.
Cerita serupa dialami Doyok (50), pedagang air yg biasa menyuplai kebutuhan warung dan rumah di sekitar Pasar Tanah Abang. Meskipun ada permintaan lebih pd musim kemarau ini, ia tidak memaksakan diri untuk melayani semua permintaan air. Sehari, Doyok hanya empat kali jalan. Ia menjual satu jerigen seharga Rp.1.500. Meski demikian, tambahan keuntungan yg dia peroleh masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.“Kebutuhan keluarga selalu saja ada, padahal kerja kami hanya kuli begini,“ ujarnya.
Ramlan musim kemarau yg bakal menyebabkan kekeringan hingga bulan depan bagi sebagian besar orang adalah belitan hidup, karena mereka harus keluar ongkos baru utk membeli atau mencari air. Tetapi, bagi Kasim dan Doyok, kekeringan meneteskan sedikit harapan sehingga tak perlu berpikir menjual gerobak utk makan.[-O-]