Minggu, 15 Agustus 2010

Duh, Begonya!

LIBURAN akhir tahun lalu kulewatkan di kampong halaman tercinta, Semarang. Tak terasa hari demi hari berlalu dgn cepat, hingga tiba saatnya bagiku utk kembali ke Jakarta. Sehari sebelum keberangkatan aku sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari tiket kereta hingga barang-barang bawaanku. Tapi entah kenapa menjelang malam hari aku tidak bisa tidur dgn nyenyak, perasaan gelisah menyelimutiku. Mungkin, karena keesokan harinya aku kudu berangkat pagi-pagi buta. Maklum, jadwal keberangkatan keretaku jam 05.00 pagi.

Selang beberapa waktu aku dikejutkan oleh suara dari jam weker yg berdering, kulihat jam sdh menunjukkan jam 04.00 pagi, walau mata masih terasa berat utk dibuka tapi kupaksakan juga utk mandi dan bersiap-siap pergi ke stasiun Tawang.

Setelah tiba di stasiun dan melewati pemeriksaan karcis aku langsung bergegas naik ke kereta tapi berhubung di dalamnya terdapat pintu penutup maka tanpa pikir panjang segera kutekan tombol yg ada di samping pintu tsb. Kutunggu-tunggu namun pintu tak kunjung terbuka, diriku mulai bertanya-tanya, ”Ada apa gerangan dgn pintu ini?

Tiba-tiba aku mendengar suara orang menegurku. ”Mau kemana mas?”, katanya. Ups, aku baru sadar ternyata tombol yg sedari tadi kutekan bukannya rusak. Pasalnya, pintu itu ternyata sdh terbuka hingga tombol itu tidak berfungsi. Buat menghindari rasa malu, aku berpura-pura tanya, ”ini betul gerbong 3 ya?” sambil ngeloyor masuk mencari tempat duduk.[-O-]

Sabtu, 14 Agustus 2010

Kebakaran Usai, Longsor Mengintai

Kebakaran yg menghanguskan Taman Hutan Raya Raden Soerjo di lerng Gunung Wilerang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, beberapa pekan terakhir mulai padam, Senin (9/11). Penyebabnya, hujan deras mengguyur kawasan itu, Minggu sore.
Hari Senin sebagian besar kawasan lereng Gunung Welirang tertutup kabut tebal. Awan hitam menggelayut pertanda hujan akan turun.
Camat Pacet Ardi Sepdianto menyatakan, setelah kebakaran reda, warga mengkhawatirkan terjadi bencana longsor.
Kekhawatiran itu karena dibekas hutan yg terbakar ada banyak sekali batang kayu yg mungkin akan meluncur bebas jika ada gelontoran air hujan. Menurut Ardi, warga khawatir bakal terjadi longsor yg lebih besar dari peristiwa pd pertengahan Desember 2002.
Pada waktu itu, tdk kurang 31 wisatawan dilaporkan tewas dari 14 orang lain yg hilang setelah longsor menerjang kawasan wisata air panasdi Desa Padusan. "Kebakaran hutan tahun ini lebih besar dibandingkan kebakaran hutan tahun 2002," kata Ardi.

Gunung Arjuno
Sementara itu, kebakaran hutan di lereng selatan Gunung Arjuno, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, belum benar-benar padam. Meski tampak padam karena hujan, tdk berapa lama titik api dilaporkan muncul kembali dan makin luas.
Hari Sabtu lalu, api masih berjarak sekitar 3 km dari permukiman terdekat. Namun, kini, api tinggal 1 km dari perkampungan terdekat, yaitu Dusun Sumbul, Desa Klampok, Kecamatan Singosari.
Menurut Kepala Subbagian Sandi dan Telekomunikasi Pemerintah Kabupaten Malang Subagyo Setyono, tdk ada kekhawatiran api akan merembet ke permukiman karena ada ladang di antara hutan yg terbakar dgn permukiman.
Subagyo menyatakan, Pemkab Malang bersama sejumlah pihak yg berkaitan dgn pelestarian hutan lereng Arjuno hanya mengandalkan metode pencegahan agar api tdk meluas. "Tidak ada upaya lain utk memadamkan karena keterbatasan teknologi dan biaya," katanya.
Warga yg disebut "pasukan cinta tanah air" itu naik lereng gunung. Dengan sabit dan parang, mereka memotong semak-semak agar api tidak merembet..[-O-]

Rabu, 11 Agustus 2010

Senyum Martin di Tengah Kemacetan Jakarta

Lima hari terakhir, pemandangan kontras terlihat di Jakarta. Sterilisasi menyebabkan jalur Bus Transjakarta bebas hambatan, tetapi pengguna jalur reguler dipaksa terbebat kemacetan yg membuat frustasi.

Kamis (5/8) pagi, Martin yg biasanya menyetir mobil menuju jalan Jendral Sudirman justru mengarah ke Barat menuju Ragunan. Warga Jagakarsa, Jaksel itu, ingin membuktikan tentang berita laju bus Transjakarta yg lebih cepat dari pada biasanya.

Mobilnya diparkir di dekat kebun Binatang Ragunan dan Martin berjalan ke arah halte bus Transjakarta di Terminal Ragunan, ujung Koridor VI Ragunan-Dukuh Atas. Uang pembayar tiket tersedia di sakunya dan dompet masuk ke tas utk menghindari copet.

”Saya ingin mencoba angkutan massal yg katanya sdh lebih cepat karena sterilisasi ini. Saya sdh bosan terjebak kemacetan dan harus membayar Joki saat menuju ke jalan Sudirman,” kata Martin yg menjadi asisten manajer perusahaan yg berkantor di Chase Plaza.

Hanya menunggu sepuluh menit, Martin sdh memasuki bus dan terpaksa berdiri karena tdk kebagian tempat duduk. Sepanjang jalan Martin terus tersenyum saat melihat ratusan kenderaan terjebak macet di Jakarta Mampang Prapatan.

Banyaknya persimpangan jalan, padatnya kendaraan pribadi, dan tidak teraturnya kendaraan umum yg sering berhenti di sembarang tempat membuat jalan itu tidak lepas dirundung macet. Namun bus transjakarta dpt melaju kencang karena semua celah bagi kendaraan pribadi utk menerobos dijaga polisi, petugas dinas perhubungan, dan satpol PP.

Senyum Martin makin mengembang saat melihat jam tangannya. Perjalanan Ragunan ke Dukuh atas hanya butuh waktu 50 menit. Jauh lebih cepat dari pada perjalanan dgn mobil yg membutuhkan waktu sampai lebih dari dua jam.

Menurut perhitungan BLU Transjakarta, sterilisasi membuat waktu tempuh bus Transjakarta meningkat pesat dari rata-rata 85 menit menjadi 50 menit dari Ragunan ke Dukuh Atas dan sebaliknya.

Bus Transjakarta yg melayani rute Ragunan-Kuningan bersama tiga koridor lain, yaitu Kalideres- Pasar Baru, Kampung Melayu-Ancol dan Blok M-Kota, memang menjadi sasaran utama kebijakan sterilisasi. Kebijakan ini ditelurkan Pemprov DKI Jakarta dgn harapan mampu mengurai kemacetan parah yg selalu terjadi di Jakarta.


Fasilitas Minim

Namun, selain keempat Koridor itu, kondisi yg menyiksa dirasakan baik oleh pengguna jalur reguler maupun pengguna kendaraan pribadi. Bus Transjakarta di Koridor VIII Lebak Bulus-Harmoni, misalnya, selalu terjebak kemacetan. Mulai dari pagi sampai malam, jalur khusus bus yg diberi karpet merah dan tdk memiliki pemisah jalan itu tidak pernah berhenti diterobos kendaraan pribadi.

Sebagai angkutan massal yg diharapkan dpt melaju cepat, bus Transjakarta Koridor VIII justru melaju sama lambatnya dgn kendaraan pribadi. Karena tdk menjadi bagian dalam program sterilisasi, jalur bus Transjakarta hanya dijaga sedikit petugas di jalan Sultan Iskandar Muda.

Polisi yg sering menilang penerobos jalur bus transjakarta juga jarang terlihat beroperasi di Koridor VIII. Koridor ini bagaikan anak tiri BLU Transjakarta karena jumlah busnya terbatas dan jalurnya paling banyak diterobos oleh kendaraan pribadi.

Keruwetan di jalur reguler juga terlihat di jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Pengguna sepeda motor yg tergencet kemacetan nekat menggunakan jalur pedestrian yg ada di sisi jalan. "Kalau jalannya enggak macet, ya enggak lewat sini," katanya.

Fasilitas Park and ride yg seharusnya ada utk memudahkan pengguna bus transjakarta pun ternyata belum memadai. Di terminal Kalideres, lokasi park and ride berada di bagian belakang terminal dan tertutup bus-bus antar kota antar provinsi yg perkir. Tdk ada plang besar atau papan petunjuk arah utk memberi tahu adanya park and ride dan mengundang masyarakat memanfaatkan sarana tsb.

Lahan park and ride di sebelah Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, tampak merana dan sepi pengguna. Selain tak dilengkapi dgn papan petunjuk, bentuk lahanpun menyulitkan kendaraan yg hendak masuk ke sana dan rawan banjir. Pintu masuk kendaraan ke lahan itu terlalu sempit dgn belokan terlalu tajam. Lahan rawan banjir karena dibuat lebih rendah dari dataran sekelilingnya.

Hanya di Ragunan, fasilitas park and ride berfungsi optimal. Lebih dari kendaraan, mobil atau spd motor tertampung di sini. Selain masalah fasilitas, keberadaan bus transjakarta yg belum menjangkau seluruh wilayah kota dan belum terinterigasi dgn moda transportasi lain menyebabkan warga enggan menggunakannya.

Wijaya (22), warga Tanah abang yg bekerja di kawasan Gajahmada, Jakpus, dan Anwar (26), warga kampung Lebak Pasir, Pejaten, Jaksel, yg bekerja di karet, Jakpus, mengatakan, dari rumah ke tempat kerja, mereka setidaknya butuh tiga kali ganti angkutan umum. Kalau pakai angkutan umum, Anwar harus mengeluarkan uang Rp.7.500-Rp9.000 sekali jalan. Sementara dgn Rp.9.000 itu, ia bisa membeli bensin dan memakai sepeda motornya pergi pulang kerja selama dua hari.


Tidak Sempurna

Penerapan sterilisasi jalur khusus bus transjakarta, menurut pengamat perkotaan Yayat Supriyatna, memang sebuah kebijakan tak sempurna. Kebijakan yg muncul akibat tekanan dan tdk didukung kebijakan lain yg menunjang. Akibatnya, muncul kesenjangan tajam di jalanan.

Namun, masih ada waktu utk memperbaikinya. Pemprov DKI diminta segera melengkapi fasilitas yg dibutuhkan. Sementara pemerintah pusat wajib mendukung dgn mempermudah upaya integrasi dgn moda transportasi lain, seperti kereta api, dan secara bersama menata sistem transportasi Jabodetabek.[-O-]



Mengembalikan Kenangan Indah Kandangan

Mengembalikan Kenangan Indah Kandangan

Pikiran Jamiati (45) kembali ke tahun 1990. Masa-masa kelam saat ia tak bisa lagi bekerja di Perusahaan Perkebunan Kandangan, bekas perkebunan kopi peninggalan Belanda, di Kare, Madiun, Jawa Timur.

Warga Suweru, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun itu, bercerita, tahun 1990 adalah titik awal kehancuran perkebunan kopi seluas 2.500 hektar di Kandangan.

Produksi kopi 800 ton per tahun dan pernah diekspor ke Eropa tdk jalan karena produksi pun menurun. Ini terjadi karena ketika manajemen perusahaan yg dipimpin Hutama Sugandi terbelit hutang.

Imbas krisis tsb, biaya operasional berkurang, tanaman jadi tak terawat, dan jumlah karyawan berangsur dipangkas, dari sebelumnya 1.000 orang menjadi 300 orang tahun 2000. Salaah satu korbannya, ya, Jamiati sendiri.

Padahal, sdh sejak tahun 1984 Jamiati bekerja di situ. Meskipun penghasilannya tdk besar, Rp.2.000 per hari, penghasilan itu teramat penting karena jadi tambahan penghasilan, selain hasil tani dari lahan berbukit seluas setengah hektar yg bisa ditanami saat musim hujan.

Namun, saat tambahan penghasilan itu hilang, anak satu-satunya akan lulus dr SMP, dan itu berarti butuh biaya tamabhan. "Namun, karena uang yg dibutuhkan tidak ada, anak saya terpaksa tdk melanjutkan sekolah. Ia lalu bekerja sbg buruh tani utk membantu keluarga," katanya.

Sekarang, 19 tahun setelah perubahan itu dialaminya, kehidupan Jamiati tidak berubah, bahkan bisa dikatakan lebih sulit karena anaknya yg hanya lulusan SMP lebih banyak menganggur saja.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka masih menggaantungkan pd lahan seluas o,5 hektar yg hanya bisa ditanami kacang saat musim hujan. Penghasilan dari kacang minimal Rp. 4 juta setahun. Artinya, setiap bulan hanya Rp.300.000, atau separuh dari upah minimum kabupaten (UMK) Kabupaten Madiun. "Setiap kali minta pekerjaan agar bisa mendapat penghasilan tambahan, pihak perkebunan selalu bilang tdk ada kerjaan," kata Jamiati.

Hartini, warga Suweru lain, juga pernah bekerja di perkebunan. "Sekarang mencari pekerjaan di sini semakin sulit. Kami memimpikan perkebunan itu hidup lagi."

Mimpi akan perubahan itu sempat muncul setelah kepemilikan perkebunan yg sudah ada sejak 1911 itu beralih ke tangan Siani, tahun 2000. Ternyata, yg terjadi malah sebaliknya. Kondisi semakin parah.

Sekitar tahun 2003, tiga bulan gaji karyawan plus tunjangan hari raya lebaran tdk dibayar perusahaan. Utk membayar gaji karyawan, aset perusahaan pun dijual, salah satunya mesin pengolah kopi. Begitu juga pohon-pohon Mahoni di perkebunan, yg ikut dijual. "Saat itu kondisinya 80 persen tanaman rusak. Tdk hanya kopi yg rusak, tanaman karet, cengkeh, dan kina juga rusak," kaata Yudi Prasetyo Utomo, administrator PT Perusahaan Perkebunan Kandangan.

Selang enam tahun sejak Siani menjadi pemilik Kandangan, harapan perubahan itu kembali muncul. Tahun 2006, kepemilikan beralih lagi kepada Heri Susanto Alamsyah setelah Heri membeli perusahaan dari tangan Siani plus melunasi hutang perusahaan. Total dana yg dikeluarkan, menurut Yudi, mencapai Rp. 41 Miliar.

Sejak itulah tanaman-tanaman di perkebunan, yaitu kopi,cengkeh, karet, dan kina dirawat kembali. Tahun 2009 hasilnya sdh terlihat. Sebagai contoh, produksi kopi di lahan seluas 500 hektar sudah 100 ton per tahun atau meningkat dua kali lipat dibandingkan dgn tahun 2006. Peningkatan produksi berdampak terhadap peningkatan pendapatan perusahaan. Dibandingkan dgn tahun 2006, saat ini pendapatan perusahaan meningkat 50 persen, dari sebelumnya Rp. 3 Miliar menjadi Rp. 4,5 Miliar.

Membaiknya keuangan perusahaan ini selalu berimbas pd bertambahnya pegawai yg direkrut. Dari sebelumnya hanya tersisa sekitar 300 orang, sekarang menjadi 600 orang.

Namun, pendapatan yg meningkat dan jumlah pegawai yg bertambah, menurut Yudi, hanya cukup utk menutupi operasional perusahaan. Karena itu, selain merawat, memperluas, dan memaksimalkan produksi, pengelola juga berencana membuat perkebunan menjadi lokasi agrowisata.

Penginapan, gedung pertemuan, dan restoran pun dibangun. Jalan menuju lokasi, yg sebelumnya sempit dan terbuat dari bebatuan, sekarang telah dilapisi beton dan memiliki lebar sekitar 5 meter. Rencananya akan dibangun pula sarana bermain anak-anak, sarana olah raga kolam renang, dan landasan helikopter. Semua fasilitas ini ditargetkan akan tuntas pembangunannya tahun 2003. "Upaya-upaya ini utk mengembalikan kenangan indah masa lalu," ujar Yudi.

Namun, utk mengembalikan kejayaan Kandangan, hal itu bukan perkara mudah. Selain mesin pengolah kopi dan karet rusak, pembangunan utk mewujudkan sebuah agrowisata disebut-sebut melanggar ijin dan mengancam keseimbangan lingkungan.

Terkait perizinan, dalam diktum keempat Keputusan Mendagri Nomor 19/HGU//DA/88 tentang pemberian Hak Guna Usaha atas nama PT Perusahaan Perkebunan Kandangan disebutkan, perkebunan hanya utk perkebunan cengkeh, kopi, karet, dan sereh.

Pembangunan agrowisata juga dikhawatirkan berdampak buruk terhadap keseimbangan lingkungan. Pasalnya, perkebunan berada di lereng Gunung Wilis yg menjadi kawasan tangkapan air dan tempat banyak sumber air berada. Air ini digunakan tidak hanya utk warga Kare, tapi juga utk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Madiun dan PLTA Giringan di Kare.

Ketua DPRD Kabupaten Madiun Tomo Budiharsojo meminta pembangunan agrowisata itu dikaji lg dgn pemerintah. Direktur PDAM Kabupaten Madiun Subiantoro belum mengetahui rencana penggunaan sumber air di Kare utk menyokong agrowisata. Namun, Yudi membantah telah melanggar izin hak guna usaha dan mengambil air dari sumber air PDAM.

Ia telah memiliki izin mendirikan bangunan sebelum bangunan penginapan dibuat. "Kami memanfaatkan air dari sumber air di areal perkebunan. Jadi tdk akan berpengaruh terhadap debit air PDAM, dan PLTA," kata Yudi.[-O-]


Rabu, 04 Agustus 2010

Ke Ujung Timur Indones!a

BICARA soal provinsi yg terletak di ujung Timur Indonesia, biasanya tak bisa lepas dari keberagaman etnik yg ada di sana. Suku Asmat, suku Dani, suku Agast, adalah beberapa nama yg identik utk menyebutkan provinsi itu.

Hingga kini, modernisasi yg berkejaran cepat di berbagai wilayah barat pun belum benar-benar mampu merambah ke beberapa wilayah di Papua yg dulunya bernama Irian Jaya itu. Keaslian adat dan budayanya masih terjaga, yg justru menjadi pesona dan daya tarik Papua secara keseluruhan.

Tengok saja misalnya saat dilangsungkannya Lembah Baliem. Festival yg dilaksanakan oleh suku-suku di Wamena utk merayakan hari besar nasional 17 Agustus itu mampu menyedot wisatawan asing maupun domestik tiap tahunnya.

Dalam festival ini diperlihatkan peragaan perang antar suku yg dilakukan di padang rumput, yg merupakan salah satu bagian dari kehidupan suku-suku di sana sejak dulu kala. Peragaan perang itu dilakukan lengkap dgn saling melempar tombak ataupun panah, hanya saja kali ini semua sdh ada skenarionya.

Rumah-rumah tradisional yg disebut Honai juga masih banyak dijumpai, yg bisa menjadi salah satu cara utk mengenali kehidupan sehari-hari mereka. Rumah ini berbentuk bulat dan beratap ilalang, yg dindingnya terbuat dari kayu tanpa jendela.

Tdk sedikit pula yg penasaran utk melihat mummy dari Papua. Hal ini bisa dilihat antara lain di Aikama yg berjarak sekitar 8 km dari Wamena, di Jiwika yg 15,5 km dari Waimena, dan mummy Pumo yg berada di Pumo/ wogi di Asologaima sekitar 32,6 km dari Wamena. Jenazah yg diawetkan dgn ramuan tradisional ini pun bernilai tinggi karena berasal dari kepala suku atau pemimpin perang.

Tentu saj, provinsi ini juga menyimpan kekayaan yg tak kalah cantik dgn wilayah pemekarannya Papua Barat. Ia punya Danau Sentani yg terletak 75 meter di atas permukaan laut dgn luas 9.360 ha. Danau itu dikelilingi perkampungan dan perumahan penduduk asli yg juga bisa ditemui di pulau-pulau di tengah danau, yg umumnya berbentuk rumah panggung.

Masih banyak lg yg bisa dikupas di dalamnya dgn potensi wisata Papua yg begitu unik dan menarik. Melihat kembali ke dalam, Indonesia tak kalah cantik dgn negara lain.[-O-]

Selasa, 03 Agustus 2010

Bersiap Menuju 2010

Dunia Pariwisata dalam negri sempat ikut terguncang di tahun 2009, seiring terjadinya krisis global di dunia. Namun peningkatan terus terjadi hingga di akhir tahun ini dan diharapkan akan terus membaik di tahun 2010 nanti.
Berbagai prediksi positif memang telah menyertai perjalanan menuju 2010. Jelas, dibutuhkan strategi baru sbg perangkat utk menyambut tahun 2010 demi meraih pasar yg lebih luas dan semakin menggairahkan industri pariwisata. Berbagai amunisi disiapkan, salah satunya dgn terus mendongkrak segi pelayanan demi memuaskan pelanggan.
Tak bisa dipungkiri, maskapai penerbangan berperan penting utk semakin mendorong gairah dunia wisata. Kemudahan menjangkau suatu destinasi dalam waktu cepat semakin mendorong laju pergerakan para pelancong dari berbagai wilayah.
Itu sebabnya pula, pihak maskapai terus menambah jumlah rute penerbangannya. Tengok saja Sriwijaya Air, yg hingga kini maskapai penerbangan swasta nasional ini telah menghubungkan 31 rute domestik dan dua rute regional dgn dukungan 23 armada Boeing.
Kemudahan utk mencapai berbagai destinasi itu juga didukung oleh pelayan sumber daya manusia dan faktor keselamatan yg menjadi isu penting dalam sebuah modal transportasi. Dalam hal ini, Sriwijaya Air mendpt penghargaan dlm kategory safety dari Boeing-Seattle USA, atas kemampuannya menjaga operasional dari segi keselamatan dan pelayanan.
Penghargaan lain juga diterima Sriwjy Air pd 2008 lalu, yaitu Indonesia Most Branded Service Award dari Markplus & Co atas layanan paling berbeda yg diberikan kpd penumpang.
Hal tsb semakin mendorong sriwjy Air utk memberikan pelayanan terbaik, sesuai dgn misinya di tahun 2009, yg mengutamakan pelayanan baik dlm segi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Sesuai dgn slogan terbarunya yg diluncurkan tahun ini, ”Service No.1”, intinya pd komitmen utk memberikan pelayanan yg utama, utama dlm pelayanan.[-O-]

Minggu, 01 Agustus 2010

Bangsa Nasi Aking

Nasi kini sdh menjadi kehidupan, bahkan status. Dari sisi linguistik, kata nasi sdh ada sejak zaman baheula. Ungkapan mencari nasi di negri orang atau mencari sesuap nasi menunjukkan betapa nasi memiliki kedudukan tinggi. Karena mewakili rejeki. Kata nasi juga jadi bagian peribahasa, seperti nasi habis, budi bersua yg berarti ingat teman kalau sudah dalam kesusahan. Jadi, nasi merupakan kehidupan.
Ungkapan sdh merdeka kok masih makan gaplek menunjukkan nasi mempunyai status tinggi. Di zaman kolonial Belanda, nasi berasosiasi dgn status. Di kalangan orang Jawa ada kata-kata Londo wae doyan sego (Belanda saja doyan nasi), betapa pemerintah kolonial menjunjung tinggi harkat nasi. Bila mendengar kata nasi, asosiasinya langsung ke beras, dan itu berasal dari padi. Seolah belum makan bila belum menyantap nasi.
Kini, nasi bahkan menjadi status politik. Bagi pemerintah orde baru, dari Sabang sampai Merauke kalau belum semua rakyat makan nasi, politik belum bisa disebut stabil. Jika pemerintah tidak bisa menjamin pengadaan beras yg murah, tersedia setiap saat, dan dimana saja, pasti dicap sbg pemerintah yg gagal.
Saat ini, beras menjadi makanan mayoritas, lebih dari 95% penduduk Indonesia. Ketika warga kesulitan beras karena harganya melambung seperti saat ini, mereka masih berupaya makan nasi. Bedanya, yg dimakan tdk seperti biasanya, tetapi nasi aking.
Nasi aking adalah nasi daur ulang, yaitu nasi basi/sisa yg dicuci dan ditiriskan, dikeringkan lalu dimasak kembali. Karena dari nasi daur ulang, kita bisa menakar betapa minimnya gizi dan nutrisi yg terkandung di dalamnya. Segera muncul bayangan buruk ; rakyat, cepat atau lambat, akan mengalami krisis gizi, kurang gizi, bahkan busung lapar.
Jika ini berlanjut dlm tempo panjang, hal burukpun tak terhindarkan. Negri ini akan kehilangan generasi yg sehat dan cerdas. Sebaliknya, yg tercipta adalah genrasi ekil dan kerdil. Bahkan, negeri ini berpotensi kehilangan satu generasi.
Krisis beras, tanpa kita sadari, ternyata mendorong lahirnya bencana sosial dan budaya yg serius. Bagaiman mungkin "bangsa nasi aking" bisa bersaing dgn bangsa lain? Bagaimana mungking "generasi nasi aking" bisa kreatif dan pengemban tampuk kepemimpinan yg membawa negri ini ke posisi terhormat di antara bangsa-bangsa di dunia.
Sebagai proses belajar yg tak pernah usai, kebudayaan membutuhkan dukungan banyak faktor. Antara lain, kecukupan gizi para pelakunya. Salah satu hal penting dalam kebudayaan adalah daya cipta atau kreatifitas. Berkembangnya kreatifitas sangat ditentukan oleh kondisi fisik para pelaku kebudayaan.. Kondisi fisik yg prima lebih memudahkan penyerapan dan internalisasi nilai-nilai kebudayaan seperti nilai-nilai etik, estetik, dan ilmiah. Sejarah membuktikan, bangsa yg mampu menghasilkan perdapan yg tinggi umumnya memiliki badan dan jiwa yg seha. Badan dan jiwa yg sehat dibangun dari kecukupan gizi.
Bangsa Indonesia pun punya catatan unggul. Generasi awal bangsa ini mampu melahirkan peradaban dan sejarah besar, misalnya Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit. Mereka melakukan kontak budaya dgn bangsa lain yg melahirkan sistem pengetahuan, sistem berniaga, ekspresi kultural, dan produk kultural. Candi Borobudur, Prambanan, dan sistem irigasi Majapahit yg mengagumkan dan membuat dunia berdecak kagum hanyalah beberapa contoh dari capaian peradaban mereka. Warisan budaya mereka jd salah satu modal penting bagi bangsa Indonesia utk membangun peradaban yg lebih berkualitas.
Tentu, generasi pendahulu bangsa ini memiliki kualitas kesehatan jiwa dan raga sehingga mampu melahirkan peradaban yg begitu bermakna. Pasti mereka bukan "bangsa nasi aking".
Pemerintah, seperti yg diobsesikan Presiden Yudhoyono, memiliki cita-cita besar; melahirkan bangsa yg cerdas,.terampil, dan takwa, atau bangsa yg berkarakter. Pertanyaanya, apakah obsesi besar itu bakal terwujud jika sebagian besar rakyat negri ini menglami bencana.pangan berkepanjangan? Bagaimana anak-anak kita bisa belajar dgn tekun dan intens jika selalu mengantuk dan perut mereka selalu memberontak.
Pangan yg cukup, sehat dan aman, adalah hak setiap warga negara. Konstitusi kita telah menjamin warga negara tidak lapar. Pasal 27 ayat 2 UUD 45 menjamin hak fakir miskin dan anak-anak telantar utk dipelihara oleh negara. Artinya, pemenuhan pangan yg cukup bagi setiap warga jadi kewajiban mutlak negara.
Jadi, dalam krisis beras, persoalannya tdk selesai pd kegagalan panen akibat cuaca, tdk juga menyangkut kebijakan pangan pemerintah. Benarkah pemerintah memihak rakyat dan berkomitmen memenuhi kewajibannya dalam pemenuhan hak pangan? Atau ada agenda lain untuk kepentingan elite tertentu dan ekonomi tertentu?
Gejalanya, membiarkan harga beras centang perenang dieksploitasi pelaku pasar, nampaknya pemerintah sengaja memberikan ruang yg luas kpd kekuatan pasar dan modal utk mengisap mereka yg lemah. Gejala itu makin kentara ketika resep panik, instan, dan sporadis dijadikan solusi meredam harga beras : operasi pasar dan impor. Bukannya menempuh cara-cara mendasar dan jangka panjang.[-O-]